Showing posts with label Tambora. Show all posts

Showing posts with label Tambora. Show all posts

Mete, Primadona Tambora


Musim kering sedang memuncak di bulan April. Namun barisan bukit yang berjejer di atas Kawinda Nae tetap menghijau. Di sana-sini melebat. “Itu mete,” kata satu guru asal Desa Rada seraya menunjuk bukit yang memanjang ke timur sepanjang sisi utara Tambora. Dari sekian kebun hanya sebagian yang berproduksi baik. Rupanya banyak kebun yang kurang mendapat perawatan dari pemiliknya.
Guru SMA I Kawinda itu yakin, jika kebun-kebun itu dirawat, hasil panen mete akan maksimal. Dia menyebut kebun mete subur milik beberapa guru asal Bima di sana. Data Kepet Bima menyebutkan produktivitas tanaman mete di cluster Tambora Utara hanya 0,39 ton  per hektar. Padahal di cluster Tambora Selatan sudah mencapai 0,39 ton per ha.
Kawinda Nae termasuk cluter Tambora Utara dengan luas areal tanam mete 1.964 ha. Produksinya mencapai 459 ton.
Jumlah itu tidak seberapa dibandingkan dengan areal tanam di cluster Tambora Selatan, mencapai 11.511 ha. Produksinya sudah 4.102 ton.

Kalanggo, Tegakannya Terlengkap di Dunia


Kalanggo (duabanga molluccana) merupakan bagian dari tipe ekologi lokal yang  unik, langka dan merupakan tegakan murni yang terlengkap di dunia. Kayu ini sempat dianggap musnah oleh badai awan panas akibat letusan Tambora. Nyatanya dia bertahan dan bangkit dengan tegakan yang lebih subur.    
Setelah letusan, kehidupan baru muncul dengan keanekaragaman hayatinya. Kawasan tersebut menjadi sangat kaya satwa endemik berupa aneka burung, rusa, banteng liar dan ular. Salah satu satwa langka yakni kelelawar yang kondang dengan julukan The Flying Fox.
Menurut penelitian FAO, satu lembaga PBB, kalanggo Tambora merupakan satu-satunya tegakan murni hutan primer di Indonesia bahkan di dunia.
Setelah Tambora dicaplok PT Veneer Product tahun 1972, kawasan itu mengalami proses kehancuran luar biasa.

Miniatur Laut Purba di Satonda


Airnya berwarna kehijauan. Rasa asinnya menyengat, melebihi air laut biasa. Ternyata air tersebut sudah bersemayam dalam tebing gunung Pulau Satonda sejak 3,4 miliar tahun silam. Itu sebabnya para ilmuwan menyimpulkan danau Satonda–di utara Tambora-merupakan model lingkungan kontemporer yang mencerminkan kondisi lautan di zaman purba.
Jejaknya dilacak dari material stromatolit yang mirip karang di danau itu. Konon material tersebut hanya ada pada era prekambrium atau sekitar 3,4 miliar tahun lampau. Peneliti Eropa Stephan Kempe dan J. Kazmierczak yakin kalau danau Satonda merupakan miniatur lautan purba.
Berkembang mitos di masyarakat ikhwal keunikan air danau Satonda. Dahulu kala, raja Tambora hendak melawat ke Sumatera untuk mencari calon istri.

Nikmatnya Kopi Tambora

Malam sudah kian larut. Keriuhan di bar itu tak juga surut. Aroma kopi keluar dari celah-celah dinding kayu banguan. Laki-perempuan bule, tua muda tenggelan dalam pesta akhir pekan. Suara tawa noni-noni Belanda berderai. Itu tandanya suasana dansa dan nyanyi kian hidup. Suhu dingin hingga 15 derajat Celcius pada ketinggain 700 meter di atas permukaan laut itu seperti tak dirasakan pengunjung bar. Tentu saja bir menjadi salah satu minuman favorit untuk menghangatkan badan.
Itu sekelumit pesta “minum kopi” akhir pekan para londo di kaki gunung Tambora era 1930-an. Tempatnya di areal kebun kopi Tambora sekarang.

Tambora, Penakluk Napoleon


Tiga gumpalan api yang terpisah memuncak hingga tinggi sekali, dan seluruh permukaan gunung tampak segera diselimuti oleh lava yang berpijar, yang meluas hingga ke jarak yang sangat jauh, di antaranya sebesar kepala, jatuh dalam cakupan diameter beberapa kilometer, dan pecahan-pecahan yang tersebar di udara telah mengakibatkan kegelapan total. Abu yang dikeluarkan begitu banyak sehingga mengakibatkan kegelapan total di Jawa, yang jaraknya sejauh 310 mil (500 km). Abu ini mengakibatkan kegelapan total saat tengah hari, dan menutupi tanah dan atap  dengan lapisan setebal beberapa sentimeter.”
Demikian catatan harian Sir Stamford Raffles, Gubernur Jenderal Belanda di Jawa tentang letusan Gunung Tambora, April 1815. Letusan itu tiga kali lebih kuat dari bencana Krakatau 1883. Awan panas mencapai suhu 800 derajat Celsius.

Keagungan Puncak Tambora


Puncak Tambora tetap menggetarkan, meskipun puncaknya terpotong saat meletus pada April 1815 sehingga tinggi gunung itu menjadi 4200 meter. Letusan dahsyat tersebut menandai era kelam Bima-Dompu.
Terkadang, jika cuaca cerah, pesawat dari Bandara Salahuddin ke Selaparang melewati Tambora. Tampak tebing batu yang mengelilingi lubang kaldera. Warnanya coklat tua, membuatnya tampak garang.
Siang itu cuaca memang cerah. Langit di puncak Tambora yang terang benderang menampilkan secara detail lubang kaldera. Dari atas sekilas seperti wajan raksasa. Garis tengah lubang di puncak lk 6 km dan dalamnya 600-700 meter. Dengan kaldera seluas itu tergambar jejak kengerian letusan hampir 200 tahu silam.
Dari lobang kaldera itulah dulu dimuntahkan debu, bebatuan hingga lahar panas. Debu memasuki atmosfis dan memanggangnya dengan suhu mencapai 800 derajat Celcius. Bencana pun susul-menyusul di darat dan udara.
free counters