Showing posts with label Wisata Bima. Show all posts

Showing posts with label Wisata Bima. Show all posts

Merekonstruksi Sambori Sebagai Desa Budaya

Kenapa harus direkonstruksi? Hal itu didasari kondisi kekinian Sambori yang tidak lagi seperti yang kita lihat sepuluh sampai dua puluh tahun lalu. Jika dulu memasuki Sambori mata kita terbuai dengan jejeran Uma Lengge beratap alang-alang, kini pemandangn itu sudah tidak kita temukan lagi. Kecuali  satu unit Uma Lengge beratap Seng yang menurut penduduk Sambori Bawah (Sambori dusun lengge) sudah berumur lebih dari 300 tahun. Itu adalah satu-satunya Uma Lengge yang masih tersisa setelah pada era 2000 an bangunan-bangunan leluhur ini dimusnahkan oleh ketidakpedulian pemimpin daerah yang mengatakan bahwa uma Lengge tidak sesuai dengan standar kesehatan dan sudah bukan zamannya lagi mempertahankan kehidupan purba di zaman modern ini. Padahal, manusia-manusia yang berumur ratusan tahun banyak dilahirkan dan dibesarkan dibawah sejuknya alang-alang uma Lengge.Manusia-manusia “purba itu hidup bersahaja dengan nasi yang dibungkus daun pisang, bukan  dengan plastic sintetis seperti saat ini.
Banyak sejarahwan dan budayawan Bima menjuluki, bahwa Sambori dan Donggo adalah wajah lama Bima. Karena Sambori itu kompleks. Sambori itu kaya dengan berbagai ragam adat dan tradisinya. Setelah beberapa kali mengunjungi dan melakukan penilitian budaya di Sambori- Lambitu, saya berkesimpulan perlu merekonstruksi dan pengkondisian kembali Budaya Sambori dalam rangka mendukung rencana pengembangan Sambori sebagai Desa Budaya NTB.
  1. Pakaian adat Sambori yang sudah tidak diketahui lagi oleh warganya sendiri, karena dalam catatan saya pakaian Sambori tidak sama dengan pakaian adat Mbojo pada umumnya. Contohnya, RIMPU itu bukanlah pakaian Adat Sambori. Oleh karena itu, perlu diupayakan pengadaan Pakaian dan aksesories Pakaian Adat Sambori
  2. Kerajianan Tradisional Sambori seperti (Waku) Lupe, Wonca, Doku, Saduku,Kula, Kaleru, Kula Baku, Tare, Tikar, Sarau, Sadopa dan lain-lain adalah daya tarik yang sangat unik bagi wisatawan. Untuk itu perlu dibentuk kelompok-kelompok usaha kerajinan dan perlu bantuan permodalan untuk terus melestarikan kreasi kerajinan ini. Kerajinan dan kreasi masyarakat Sambori bisa menjadi Souvenir bagi wisatawan yang berkunjung yang menyatu dengan bisaya masuk (Entrance Fee) yang ditetapkan setiap memasuki areal kampong Adat. Hal ini sekaligus sebagai bentuk pemberdayaan masyarakat  Sambori.
  3. Pohon Pandan sebagai bahan baku utama seluruh kerajinan Masyarakat Sambori saat ini sudah semakin berkurang, perlu upaya pembibitan dan penanaman kembali pohon pandan di sekitar desa Sambori.
  4. Model satu unit Uma Lengge yang direkonstruksi saat ini sesungguhnya tidak sama dengan prototipe Uma Lengge yang dulu, untuk itu perlu kiranya dipikirkan pembangunan Uma Lengge oleh Generasi Sambori sendiri. Konstruksi yang menjadi model saat ini hampir mirip dengan Beruga di Lombok dan Salaja kalau di Bima-Dompu. Karena sesuai tradisi pembangunan Uma Lengge diperlukan 14  jenis kayu yang ada di sekitar Sambori dan 3 jenis Tali temali yang bahannya ada di sekitar Sambori juga.
  5. Areal yang telah dialokasikan untuk rencana pembangunan 15 Unit Uma Lengge perlu dipikirikan kembali karena terlalu sempit dan sulit untuk dikondisikan jika ada keinginan untuk menghidupkan kembali tradisi dan kerajinan masyarakat Sambori di areal tersebut. Karena dalam satu kompleks kampung adat perlu dipikirkan tata lingkungan secara tradisional, warga yang dipilih untuk bermukim beserta aktifitas dan tradisinya, serta satu areal yang dialokasikan untuk pementasan kesenian di tengah-tengah kampung adat itu. Alternatif tempat (areal) yang represntatif adalah di ujung  timur dusun Lambitu Sambori (Sebelum turunan menuju dusun Lengge = Sambori Bawah).
  6. Tarian dan kesenian Sambori seperti Kalero, Bela Leha, Arugele, Mpa’a Lanca (Adu Betis) dan Mpa’a Manca perlu dilestarikan dan diwadahi dalam satu Sanggar Seni Budaya Sambori.
  7. Untuk menghimpun kembali bahasa Sambori dan Tarlawi agar tidak punah dan ditinggalkan oleh masyarakat pendukungnya perlu disusun satu Kamus khusus Bahasa Sambori dan Tarlawi. Penyusunan kamus ini juga diperlukan bukan saja untuk pelestarian Bahasa Sambori, tetapi diperlukan untuk penelitian-penelitian linguistic lainnya.
  8. Untuk menghimpun pandangan, ide dan gagasan dari tokoh Sambori, Pemerintah setempat, dan stakeholder terkait Lambitu dan pengembangan Desa Adat Sambori, perlu diadakan sebuah seminar dengan Tajuk “MEREKONSTRUKSI SAMBORI SEBAGAI DESA ADAT
* Sumber : Alan Malingi

Kerajinan Dan Kreasi Masyarakat Sambori


Pada umumnya Kerajinan tradisional adalah proses pembuatan atau pengadaan peralatan dan perlengkapan hidup mencakup pakaian, perumahan, alat-alat rumah tangga, senjata, alat-alat produksi, alat-alat transportasi dan lain sebagainya. Proses pembuatannya harus berpedoman pada nilai dan norma budaya, sebab semua perlengkapan hidup yang dibuat merupakan salah satu unsur budaya.
Ketrampilan yang dimiliki oleh para pengrajin diperoleh dari warisan leluhur tanpa melalui pendidikan formal. Bermodalkan ketrampilan yang dimiliki, mereka mampu membuat berbagai jenis barang walau dengan peralatan yang sederhana. Bahan baku yang dibutuhkan, mudah diperoleh disekitar lingkungannya, antara lain Tumbuh-tumbuhan, Logam, Batu-batuan, tulang dan Kulit hewan dan sebagainya.
Kerajinan tradisional Sambori kaya dengan jenis dan bentuknya. Bukan hanya tahan lama dan kuat, tetapi juga mengandung nilai seni budaya yang tinggi. Karena itu kerajinan tradisonal Sambori harus dilestarikan oleh Pemerintah dan Masyarakat. Kalau usaha pelestarian dan pengembangan itu tidak segera dilaksanakan secara sungguh-sungguh, maka dikhawatirkan dalam waktu yang tidak lama kerajinan tradisional Sambori akan dilupakan oleh masyarakat pemiliknya.
Hampir 80 porsen kerajinan Sambori menggunakan Daun lontar, baik lontar yang berdaun lebar maupun  berdaun kecil. Karena pohon lontar banyak ditemukan tumbuh secara liar di sekitar Sambori dan sekitarnya. Leluhur orang Sambori memang cukup arif melihat peluang di pelupuk mata. Pohon pandan terus dikembangkan untuk menunjang proses kreatifitas kerajinan warga sambori dari masa ke masa.
Ada lebih dari 10 jenis kerajinan anyaman yang dihasilkan dari tangan dingin perempuan-perempuan Sambori. Kerajinan itu yaitu, Waku (Lupe), sejenis payung tradisional Sambori, Saduku, Kula, Kula Baku,Kaleru, Tare(Nampan), Dipi (Tikar), Wonca, Doku, Sarau dan Sadopa.
   
1.    Waku (Lupe) Payung Tradisional Sambori

Orang-orang Sambori menyebut Waku. Tapi orang-orang di Bima menyebutnya Lupe.  Waku berbentuk lonjong, menutupi kepala dan badan yang berfungsi sebagai topi/payung sekaligus Jas Hujan. Yah, bisa dikatakan bahwa Waku adalah Jas Hujan Tradisional masyarakat Mbojo tempo dulu terutama di wilayah Donggo Ele yang meliputi Kuta, Teta, Sambori, dan  Kaboro. Daun pandan gunung, berdaun lebar lagi panjang, seratnya kuat tidak mudah robek. Waku sangat cocok bagi petani peternak atau pengembala yang sedang bekerja di sawah ladang dan padang nan luas.
Untuk membuat Waku dibutuhkan 8 helai daun pandan berdaun lebar dengan ukuran panjang 2,5 sampai 3 meter. Untuk mengeratkan sambungan tiap helai daun pandan diikit dengan tali dari ijuk (Lidi). Cara membuat Waku tidaklah terlalu sulit bagi masyarakat Sambori. Daun Pandan yang telah diambil dari pohonnya dikeringkan lebih dulu, kemudian dianyam. Cara menganyamnya yaitu dengan menyilang daun pandan yang satu dengan daun pandan yang lainnya dan hampir sama dengan mengayanyam Tikar Pandan atau Dipi Fanda. Yang membedakakanya adalah finishing dari Waku yang menyerupai Topi atau payung. Dibutuhkan waktu satu hari untuk menganyam Waku sampai menghasilkan anyaman Waku yang siap untuk dikenakan terutama untuk melindungi diri dari hujan dan terik matahari.
Waku sangat unik. Ini adalah sebuah warisan leluhur masyarakat Sambori yang perlu dilestarikan keberadaanya. Waku dan komoditi lainnya dari desa ini sangat berpotensi sebagai salah satu souvenir atau oleh-oleh buat wisatawan yang berkunjung. Hal ini tentunya akan menggairahkan para pengrajin di wilayah ini untuk memproduksi Waku (Lupe) dan kerajinan ketrampilan lainnya untuk menopang perekonomian mereka.

2.    Saduku
 
Orang-orang Bima menyebutnya Sanduru. Saduku adalah tempat/wadah untuk menyimpan nasi. Ketika orang-orang Sambori ke kebun atau ke ladang mereka selalu membawa makanan dengan Saduku. Ukuran Saduku juga bermacam-macam, ada yang kecil dan ada juga yang besar. Saduku kecil dengan ukuran tinggi 25 cm dan lebar 20 cm digunakan untuk menyimpan nasi untuk ukuran satu sampai dua orang. Sedangkan yang besar dugunakan untuk kebutuhan lebih dari lima orang. Pengalaman warga Sambori, menyimpan nasi dengan Saduku bisa bertahan sampai 3 hari dan tidak basi.
Bahan dasar pembuatan Saduku adalah daun lontar yang dibelah kecil-kecil. Proses pembuatannya melalui perendaman sekitar 2 jam kemudian dijemur. Lalu pada sore hari hingga malam hari kaum perempuan menganyam saduku secara bersama-sama. Dalam satu hari, warga Sambori mampu menghasilkan 3 sampai 5 Saduku, jika tidak ada kesibukan lain seperti menanam atau bekerja di sawah.
Menurut pengalaman orang-orang Sambori, Saduku yang kuat dan tahan lama sadalah Saduku yang dianyam dari serat Laju. Laju  adalah pohon jenis palma, tetapi pohonnya tidak tinggi seperti Fu’u Ta’a (Pohon Lontar) dan Ni’u (Nyiur). Pohon ini banyak terdapat di lahan-lahan kering dan dataran tinggi sekitar Sambori. Daunnya berserat dan kuat tidak mudah putus atau terpotong. Dari Ro’o Laju dibuat dua jenis wadah untuk menyimpan kacang hijau, kadele atau jagung dan beras. Bentuknya bulat panjang seperti kantung, dengan ukuran 25 kilogram. Berdasarkan ukurannya, jenis wadah Dari Ro’o Laju terdiri dari dua jenis, yaitu yang besar bernama Balase dan yang kecil disebut Saduku/ Sanduru.

3.    Kula

Kula adalah Wadah untuk menyimpan berbagai jenis barang kebutuhan sehari-hari. Fungsinya bermacam-macam. Ada  Kula Lo’i (Kula Obat) Kula tempat menyimpan segala jenis ramuan obat tradisional, pada umunya berbentuk segi empat yang dibagi dalam beberapa kotak kecil. Kula Mama Kula untuk menyimpan sirih, pinang dan kapur sirih. Dan Kula Bongi (Kula Beras), Kula untuk menyimpan beras
Bentuknya bersegi empat dengan ukuran 15 sampai 20 cm. Bahan utama pembuatan Kula adalah daun lontar yang dibelah kecil-kecil. Setiap rumah orang Sambori wajib memiliki Kula. Biasanya Kula disimpan di ruang keluarga untuk menerima tamu. Proses pembuatannya juga sama dengan saduku, dikerjakan secara bersama-sama oleh para gadis dan kaum perempuan Sambori. Dalam sehari mereka mampu menghasilkan lebih dari lima buah Kula. 

4.    Kula Baku

Hampir sama dengan Kula, hanya saja ukuran Kula Baku lebih kecil daripada Kula. Hasil anyaman ini berfungsi untuk menyimpan Sirih maupun rempah-rempah seperti kunyit, jahe, bawang putih, dan lain-lain. Bahan utama pembuatan Kula Baku juga adalah daun lontar yang dibelah kecil-kecil. Setiap rumah orang Sambori wajib memiliki Kula. Bersama Kula, Kula Baku juga  disimpan di ruang keluarga untuk menerima tamu. Proses pembuatannya juga sama dengan Kula dan Saduku, dikerjakan secara bersama-sama oleh para gadis dan kaum perempuan Sambori. Dalam sehari mereka mampu menghasilkan lebih dari lima buah Kula Baku. 

5.    Kaleru

Hampir sama dengan anyaman lainnya, Kaleru juga berfungsi untuk menyimpan Sirih maupun rempah-rempah seperti kunyit, jahe, bawang putih, dan lain-lain. Bahan utama pembuatan Kaleru juga adalah daun lontar yang dibelah kecil-kecil. Setiap rumah orang Sambori wajib memiliki Kaleru. Bersama Kula, Kula Baku juga  disimpan di ruang keluarga untuk menerima tamu. Proses pembuatannya juga sama dengan Kula dan Saduku, dikerjakan secara bersama-sama oleh para gadis dan kaum perempuan Sambori. Dalam sehari mereka mampu menghasilkan lebih dari lima buah Kaleru. 

6.    Dipi Fanda (Tikar Pandan)

Dipi berarti tikar. Sedangkan Fanda adalah pandan. Jadi Dipi Fanda adalah tikar pandan. Membuat tikar pandan adalah tradisi turun temurun masyarakat Sambori. Seorang anak perempuan harus memiliki keahlian dalam menganyam tikar pandan. Hampir setiap rumah di Sambori, selalu ditemui orang-orang yang menganyam tikar. Anyaman tikar pandan sebagian besar digunakan untuk kebutuhan rumah tangga, pamaco (sumbangan untuk hajatan keluarga), dan selebihnya untuk dipasarkan keluar Sambori.
Proses membuat tikar pandan, dimulai dengan pengambilan daun pandan yang berduri. Kemudian, daun dipotong dengan alat penjangat. Lalu, daun direbus dengan air hujan atau air sungai agar warna pandan berganti menjadi putih. Setelah direbus, daun dijemur agar daun benar-benar kering. Setelah kering, daun pandan diluruskan agar pengerjaan pada saat menganyam mudah dilakukan. Dalam satu  minggu, perempuan Sambori bisa mengerjakan tikar pandan sebanyak 4 buah. Pekerjaan ini harus benar-benar yang sudah ahli. Untuk mendapatkan ukuran tikar yang besar, harus pandai menyambungnya.

7.    Wonca (Bakul) Dan Doku (Nyiru)

Wonca (Bakul)
Disamping kerajinan dari daun lontar, masyarakat Sambori juga menekuni kerajinan dari bambu dan rotan seperti Wonca atau bakul dan  Doku (Nyiru). Namun proses pembuatan kerajinan anyaman ini  tidaklah seramai dan sebanyak warga yang melakoni anyaman dari daun pandan atau lontar.
Doku (Nyiru)
Doku adalah wadah untuk menapis dan membersihkan beras dan kulit gabah atau kerikil yang bercampur dengan biji gabah. Beras yang sudah ditapis atau disaring dengan Doku di masukkan dalam wadah yang bernama Wonca (bakul). Ukuran Wonca bermacam-macam, ada yang besar, sedang dan ada yang berukuran kecil.
Selain sebagai wadah untuk menyimpan gabah dan beras, Doku dan Wonca juga menjadi wadah untuk menyimpan berbagai jenis bahan pangan lainnya, seperti kacang kedelai, kacang hijau , jagung dan lain-lain.

8.     Sarau (Camping)

Sarau adalah topi tradisional Mbojo yang dianyam dari bahan baku bambu. Sarau dapat dipakai oleh kaum laki-laki dan kaum perempuan, bila mereka pergi ke sawah ladang, ke gunung , ke tegalan dan kebun. Bukan hanya untuk melindungi dari kehujanan tetapi juga untuk melindungi diri dari panas terik matahari.
Para pengrajin yang memiliki ketrampilan dalam menganyam tersebar di beberapa desa. Desa-desa yang sampai sekarang masih aktif memproduksi sarau antara lain Desa Ntori, Maria dan Desa-desa lain di Kecamatan Wawo Kabupaten Bima, Desa Lela Mase dan Nungga di Kecamatan Rasanae Timur Kota Bima, dan beberapa desa di Kecamatan Sape Kabupaten Bima.

9.    Tare (Nampan) Dari Rotan

Masyarakat Sambori juga kreatif membuat Tare (Nampan) dari rotan dan Bambu. Kreatifitas ini dilakukan untuk kepentingan upacara dan menghadiri undangan Jambuta (hajatan) keluarga baik yang ada di Sambori maupun di luar Sambori. Biasanya Tare-tare ini dibawa oleh kaum perempuan untuk menyimpan perangkat sirih pinang dan makanan “Teka Ra Ne’e(Sumbangan untuk keluarga dan kerabat yang berhajat berupa beras, sayur dan buah-buahan serta bahan makanan lainnya.  

10. Sadopa (Sandal Tradisional Sambori)

Tangan-tangan terampil orang Sambori tidak hanya menyentuh anyaman, tapi masalah alas kakipun tak luput menjadi perhatian. Sadopa adalah sandal tradisional yang telah dibuat masyarakat Sambori sejak berabad-abad lamanya. Bahan Dasarnya adalah Kayu hutan yang kuat dan tahan lama seperti kayu Sopa, Kayu Impi dan ada juga dari kayu Nangka. 
Cara membuat Sadopa adalah dengan memotong kayu-kayu tersebut dan dibentuk menyerupai sandal sesuai ukuran kaki pemakainya. Hanya saja perbedaannya dengan sandal, Sadopa hanya mempunyai Tangkai di depan yang berfungsi untuk memasukan celah antara Jari dengan ibu jari kaki. Setiap Rumah di Sambori memiliki Sadopa yang perlu terus dilestarikan untuk menjadi souvenir bagi wisatawan.

11. Peralatan Dapur

Hampir seluruh peralatan Dapur masyarakat Sambori dibuat dengan cara tradisional dan secara utuh diambil dari alam. Beberapa peralatan dapur itu adalah Tungku perapian yang berasal dari batu-batu gunung dan batu kali, piring nasi (Kale’a) dari potongan buah labu (Bima= Wila), sendok makan dari batok kelapa, serta tempat air dari labu (wila).
Cara pembuatan alat perkakas itu cukup sederhana yaitu dengan membentuk batok Kelapa misalnya untuk menjadi sendok dan piring nasi. Demikian juga perkakas lainnya. Alat-alat ini cukup kuat, tahan lama dan tidak mudah pecah. Disamping itu, menyimpan air dengan wadah dari labu sangat baik untuk menjaga kejernihan air dan tetap segar jika diminum di teriknya mentara saat di sawah/ ladang.   

12. Tenunan Sambori

Tenunan Tradisional Bima–Dompu khususnya Sambori jika dicermati secara seksama, di dalamnya mengandung nilai-nilai yang pada gilirannya dapat dijadikan sebagai acuan dalam kehidupan sehari-hari bagi masyarakat pendukungnya. Nilai-nilai itu antara lain: kesakralan, keindahan (seni), ketekunan, ketelitian, dan kesabaran.  Di Sambori, menenun merupakan seni kerajinan tangan turun-temurun yang diajarkan kepada anak cucu demi kelestarian seni tenun tersebut. Motif tenunan yang dipakai seseorang akan dikenal atau sebagai ciri khas dari daerah mana orang itu berasal, setiap orang akan senang dan bangga mengenakan tenunan asal daerahnya.
Dalam masyarakat tradisional Sambori, tenunan sangat bernilai dipandang dari nilai simbolis yang terkandung didalamnya, termasuk arti dari ragam hias yang ada karena ragam hias tertentu yang terdapat pada tenunan memiliki nilai spiritual dan mistik menurut adat. Sedangkan, nilai ketekunan, ketelitian, dan kesabaran tercermin dari proses pembuatannya yang memerlukan ketekunan, ketelitian, dan kesabaran. Tanpa nilai-nilai tersebut tidak mungkin akan terwujud sebuah tenun songket yang bagus. Pada umumnya, ragam hias dan warna pada tenunan Sambori adalah warna hitam dan kotak-kotak/garis putih kecil-kecil. Pada masa lalu, perempuan Sambori memproduksi Sarung, kadang juga Sambolo (Destar) dan Weri (Ikat Pinggang).

==========================================================
BuyBlogReviews.com
==========================================================

Kepercayaan Dan Tradisi Masyarakat Sambori


Pada masa lalu terutama pada zaman pra sejarah sudah lazim di belahan Bumi ini, masyarakat menganut kepercayaan Anisme dan Dinamisme. Demikian pula halnya di Sambori dan Bima pada umumnya. Kepercayaan akan roh-roh nenek moyang dan penyembahan pohon-pohon besar yang diyakini memiliki kekuatan gaib juga menjadi kepercayaan masyarakat Sambori. Ada pohon beringin besar di ujung Kampung Sambori Lengge yang dulu dijadikan tempat pemujaan.
Tidak hanya itu saja, keyakinan masyarakat Sambori pada hal-hal mistik cukup beragam misalnya  pada bagian kiri halaman uma lengge yang sudah berusia lebih dari 300 tahun yang ditumbuhi rerumputan dilarang atau pantang untuk diinjak atau dilewati baik untuk warga sambori itu sendiri juga warga pendatang.
Sejarah Uma Lengge pun masih kental dengan nilai mistiknya, yaitu Uma Lengge yang dihuni oleh ompu dan wa`i, yang konon pada uma lengge tersebut masih menyimpan benda benda yang menyimpan nilai mistik, benda-benda tersebut antara lain buja yang memiliki nama masing masing yaitu lalino, dan lajaro serta la aji, dalam uma lengge itu juga terdapat seekor anjing hitam (Lako me`e) yang konon sering muncul sebagai penunggu di dalam uma lengge tersebut.
Pada masa lalu, Upacara dan ritual merupakan bagian penting dalam kehidupan masyarakat Sambori. Seluruh fase kehidupan manusia tidak terlepas dari Upacara dan prosesi adat. Pada masa lalu, di kalangan warga Inge Ndai ini memiliki beberapa upacara dan ritual antara lain Upacara Kelahiran, Suna Ro Ndoso (Khitanan), Nika Ro Neku (Pernikahan), Kanggihi Kanggama (Pertanian), Ngaha Ncore (Tolak Bala), serta Upacara/Ritual Kematian.
     Namun sejak Islam masuk di Bima dan menjadi agama resmi kerajaan pada tahun 1640 M, masyarakat Sambori yang sangat patuh pada raja dan Sultan akhirnya memeluk Islam. Seluruh kepercayaan lama mereka tinggalkan. Hingga kini, 100 % warga Sambori dan sekitarnya beragama Islam. Bahkan di sebelah selatan Sambori terdapat sebuah desa yang menjadi tempat pengungsian Sultan Abdul Kahir I dan menjadi pusat penyebaran Islam di tanah Bima. Desa ini bernama Kalodu yang dulunya bernama KAMINA. Di sinilah terdapat masjid tertua dan masjid pertama yang berdiri di tanah Bima. Saat ini Masjid Kamina telah direkonstruksi oleh Pemerintah Kabupaten Bima dan menjadi bangunan Cagar Budaya untuk mengenang sejarah masuknya Islam di Tanah Bima.
     Di atas desa Sambori yang berjarak sekitar 1 Km terdapat 4 buah kuburan kuno yang diyakini sebagai kuburan orang-orang yang menyiarkan agama Islam yang sering melewati lereng Sambori. Kuburan itu terletak di puncak gunung Tuki yang merupakan anak gunung Lambitu di sebelah utara atas kampung Sambori.   

Tradisi Tapa Gala
Cara penyambutan Tamu di Sambori cukup unik. Jika di daerah lain umumnya mereka menabur beras kuning, tapi di Sambori memiliki tradisi Tapa Gala (Tapa berarti Tahan, Gala berarti Bambu). Tapa Gala adalah menahan dengan bambu. Dalam tradisi ini, warga Sambori menahan para tamu yang mengunjungi desanya dengan meletakan bambu muda sepanjang 3 meter atau selebar jalan yang akan dileawati. Kemudian, salah seorang tetua adat memberikan sebuah parang kepada ketua rombongan tamu dan dipersilahkan untuk memotong bambu muda tersebut. Setelah bambu terpotong, maka para tamu sudah bias memasuki kampung ( Desa).
Tradisi Tapa Gala bagi masyarakat Sambori dimaksudkan sebagai sebuah penghormatan kepada Tamu untuk memotong dan menebas segala halangan rintangan yang terjadi selama berkunjung di Sambori. Tapa Gala juga sebagai symbol kebersamaan antara pendatang dengan warga Sambori.
Dalam prosesi pernikahan juga Tapa Gala dilakukan ketika rombongan calon pengantin pria memasuki Sambori. Tetua adat dan keluarga calon pengantin wanita menahan para Tamu dengan membentangkan Bambu untuk dipotong. Sebelum pemotongan bambu, dua belah pihak sambil melempar pantun yang memikat. Selanjutnya Bambu dipotong oleh ketua rombongan untuk memasuki tempat Jambuta (Pesta).    

Syair Kehidupan Lereng Lambitu


Masyarakat Sambori dan sekitarnya adalah masyarakat yang memiliki cita rasa seni tinggi. Syair–syair kehidupan dan keluguan peradaban tercecer dari mulut-mulut damai laki dan perempuan Sambori. Hampir seluruh aktifitas hidup di Sambori tidak terlepas dari syair dan nyanyian yang berisi pantun, nasehat, petuah serta pujian terhadap yang Maha Kuasa. Salah satu contoh adalah syair Belaleha yang berarti Hidup Mati Dengan Tuhan. Setelah Islam masuk di Sambori, syair Belaleha pun disesuaikan dengan ajaran dan aqidah Islam.   
Saat ini seni tari dan atraksi kesnian Sambori  yang masih tersisa tinggal beberapa jenis saja. Masih ada lima jenis atraksi kesenian baik berupa tarian, atraksi ketangkasan maupun seni music vokal. Atraksi itu adalah Kalero, Belaleha, Arugele, Bola La Mbali dan Mangge Ila, Mpa’a Manca serta Mpa’a Lanca. 

a.    Kalero
Kalero, yaitu jenis tari upacara untuk menghormati arwah leluhur serta agar anak cucunya yang masih hidup dijauhkan dari bencana. Sebenarnya Kalero bukanlah jenis tari utuh, melainkan merupakan perpaduan tari dan seni musik vokal. Tarian dan Nyanyian Kalero diiringi musik gendang, gong dan Serunai. Sambil bernyanyi, para penari Kalero melakukan gerakan berlari kecil mengelilingi satu sama lain dalam posisi melingkar.
Penari Kalero terdiri dari enam sampai delapan orang penari. Sedangkan pemain musik terdiri dari lima orang yaitu dua orang penabuh gendang, satu orang pemukul Tawa-Tawa (Bima=Katongga), dan seorang peniup Sarone (Sejenis alat musik tiup khas bima yang dibuat dari daun lontar. 

b.    Belaleha
Menurut sejarahwan dan budayawan Bima, Belaleha merupakan seni music vokal yang tertua. Seni vokal ini berisikan doa dan pengharapan agar tanah dan negeri, keluarga dan  masyarakat senantiasa mendapat perlindungan dari Sang Khalik dan dijauhkan dari bencana. Secara umum alunan vokal Belaleha dilantunkan pada acara sunatan/khitanan dan acara pernikahan. Sehingga di kalangan masyarakat Sambori dikenal dengan Belaleha Suna ro Ndoso (Khitanan) dan Belaleha Nika Ro Neku (Pernikahan). Syair Belaleha berisi petuah, nasehat, pantun dan pujian  dan harapan kepada yang Maha Kuasa.
Sesuai fungsinya, Belaleha dibagi dalam dua jenis yaitu  Belaleha Randa dan Belaleha Ranca. Belaleha Randa dihajatkan untuk penobatan seseorang dalam satu upacara adat dan pada masa pra Islam untuk persembahan sesajian, tetapi setelah Islam ritual itu tidak dilaksanakan lagi. Sedangkan Belaleha Ranca digelar untuk hiburan biasa.
 
Syair Belaleha

Belaleha,
Alona Tembe Kala
Aloyilana matiri nggunggu
Ndoo poda dikatente Cepe

Belaleha
Ria Ese Tolo Reo
Mamuna Tembe me’e ma riu
Dodoku di salampe cempe

Belaleha
Nuri se tolo naru
Manangi la ntonggu tolu
Oi oluna sacanggi moro

Bela leha
Akadu la joa
Makidi katake hidi
Rasapana ra ngari dompo

Belaleha
Akadu dou matua
Ma wi’ina nggahi karenda
Karenda da mbali mbua

Catatan : syair ini dilantunkan untuk menghibur anak-anak yang lagi disunat. Dan dihajatkan untuk meringankan rasa sakit sang anak ketika disunat.

c.    Arugele
Secara umum Arugele adalah tarian dan nyanyian yang berhubungan dengan tanam dan panen. Oleh karena itu, atraksi seni ini biasa digelar di sawah dan huma ketika mulai menanam maupun pada saat panen. Tarian dan nyanyian Arugele dibawakan oleh 6 sampai 8 orang perempuan baik dewasa maupun para gadis. Sambil menyanyi mereka memegang tongkat kayu yang ujungnya telah dibuat runcing dan ditancapkan ke tanah. Mereka berbaris dan melakukan gerakan menancapkan kayu yang diruncingkan itu kemudian menaburkan butir-butir padi, jagung atau kedelai ke tanah yang telah mereka lubangi dengan kayu runcing tadi. Sementara kaum lelaki mengikuti alunan langkah mereka untuk merapikan dan menutup kembali tanah yang telah ditaburi bibit tadi.
Di kalangan masyarakat Bima ada sejenis tari yang mirip dengan arugele Donggo Ele, yaitu tari sagele, yang biasanya dipentaskan ketika menanam padi di sawah ladang, kemungkinan tari Sagele berasal dari tari Arugele Donggo Ele. Tari sagele hanya dikenal oleh Orang Bima di kecamatan Wawo dan sekitarnya, serta di kelurahan Lelamase Kota Bima.
Seperti halnya Belaleha, Arugele pun berkembang dan dilantunkan bukan hanya pada saat menanam atau panen, tapi nyanyian Arugele juga dilantunkan pada saat acara khitanan maupun pernikahan.
Syair Arugele Ngguda (Arugele Untuk Menanam)
Gele Arugele
Gele Badoca
Lirina Pana Liro
     Kone di sarei todu kai sarau
      Jagaku palona pahumu piri pela
      Bohasi baliro pahu me’e taluru
     
      Gele Arugele
      Lino na tolo lino ntauka kantolo
      Linona moti lino ntau balata
      Linona ade tiwara dou ma eda

      Gele Arugele
      Ura bura aka main onto doro
      Madama dodo dasaina tolo
      Jagaku mbeca tembe do’o ra cepe

      Gele Arugele
      Papa pai la tana’u ra nefa
      Campo konci la sabua mafaka
      Musyawara kabou mampasa

Catatan : Syair ini menggambarkan suasana di sawah lading ketika menanam, hijaunya alam, terik mentari, nyanyian burung, kebersamaan dan seluruh aktifitas para petani di sawah/lading dan huma.

d.    Nyanyian Bola La Mbali dan Mangge Ila
Nyanyian ini cukup sakral. Alunan syair dan lagunya cukup syahdu. Menurut pengakuan para penuturnya, syair dan lagu ini dinyanyikan pada saat-saat tertentu saja yaitu ketika seorang anak mengalami penyakit cacar, dan orang-orang yang mengalami penyakit menahun. Nanyian ini sekaligus menjadi mantra untuk memohon kesembuhan kepada Sang Khalik. Biasanya anak-anak yang kena cacar ditidurkan, kemudian para perempuan/kaum ibu duduk melingkar di sekeliling si sakit dan melantunkan syair Mangge Ila dan Bola La Mbali. 
Syair Bola La Mbali
E, hai Bola La Mbali
Ndo Au La Mbali
Sima Kaila
Ei la dei bola
Ngaundaina, e bola la mbali

Syair Mengge Ila
Mangge ila nai 2 x
Ilae bala mange
E Ruma ra ndaita Ruma
Ruma ndaita su’u kai ruma
Ila e Mangge….!

e.    Mpa’a Manca
Tari ini dikategorikan Tari  Perang yang dimainkan oleh dua orang prajurit laskar kesultanan, ciptaan Sultan Abdul Khair Sirajuddin. Diilhami oleh gerakan tari Mbojo Mpa’a kapodo (tari rakyat) yang dipandukan dengan gerakan penca pinang kabau. Diiringi musik genda Mbojo, bersenjatakan kopodo (sepotong kayu ukuran sekitar 25 cm dan tumpul) atau pemukul dengan aksesoris pasapu monca (sapu tangan kuning) di tangan kiri. Tari ini berkembang pesat di Sambori dan sekitarnya hingga saat ini.
Gerakan Mpa’a Manca mirip dengan pencak silat. Pada tahap awal dua pendekar yang akan berlaga saling menampilkan gerakan-gerakan dan atraksi individu yang cukup menarik. Kemudian pada fase kedua mereka mulai memainkan gerakan menggunakan Kapodo dan saling menyerang. Ketika para pendekar saling menyerang alunan gendang pun trus bertalu-talu. Atraksi kesenian ini berdurasi sekitar 15 menit. Dan menjelang berakhirnya atraksi kedua pendekar bersalaman dan berangkulan sambil memberi hormat kepada para penonton.

f.     Mpa’a Lanca (Adu Betis)
Tarian dan atraksi kesenian tradisional Mbojo khusus untuk kaum pria didominasi oleh tarian dan atraksi ketangkasan. Tak ketinggalan pula di Sambori dan sekitarnya. Mpa’a Lanca atau yang dikenal juga dengan atraksi Adu Betis adalah salah satu atraksi ketangkasan yang bisa digolongkan dengan atraksi paling tua di tanah Bima.
Hanya orang-orang tertentu saja yang bisa memainkan atraksi ini. Karena dalam atraksi ini membutuhkan keahlian dan kekebalan khsusus bagi para pemainnya. Sebelum atraksi dilangsungkan, para pemain Lanca harus diisi dulu dengan mantera-mantera dan ilmu kebal.
Lanca dimainkan oleh 4 orang laki-laki dewasa dengan ketentuan 2 orang menyerang dengan menendang betis lawannya. Sementara dua orang lainnya bertahan dengan mendempetkan betis masing-masing. Sebagaimana Mpa’a Manca, Lanca juga diringi alunan gendang, gong dan serunai.  Atraksi ini berlangsung dalam durasi sekitar 15 menit. Dan sebelum atraksi berakhir, para pemain bersalaman dan memberi hormat kepada para penonton. 
free counters