Malam sudah kian larut. Keriuhan di bar itu tak juga surut. Aroma kopi keluar dari celah-celah dinding kayu banguan. Laki-perempuan bule, tua muda tenggelan dalam pesta akhir pekan. Suara tawa noni-noni Belanda berderai. Itu tandanya suasana dansa dan nyanyi kian hidup. Suhu dingin hingga 15 derajat Celcius pada ketinggain 700 meter di atas permukaan laut itu seperti tak dirasakan pengunjung bar. Tentu saja bir menjadi salah satu minuman favorit untuk menghangatkan badan.
Itu sekelumit pesta “minum kopi” akhir pekan para londo di kaki gunung Tambora era 1930-an. Tempatnya di areal kebun kopi Tambora sekarang.

