Nikmatnya Kopi Tambora

Malam sudah kian larut. Keriuhan di bar itu tak juga surut. Aroma kopi keluar dari celah-celah dinding kayu banguan. Laki-perempuan bule, tua muda tenggelan dalam pesta akhir pekan. Suara tawa noni-noni Belanda berderai. Itu tandanya suasana dansa dan nyanyi kian hidup. Suhu dingin hingga 15 derajat Celcius pada ketinggain 700 meter di atas permukaan laut itu seperti tak dirasakan pengunjung bar. Tentu saja bir menjadi salah satu minuman favorit untuk menghangatkan badan.
Itu sekelumit pesta “minum kopi” akhir pekan para londo di kaki gunung Tambora era 1930-an. Tempatnya di areal kebun kopi Tambora sekarang.

Tambora, Penakluk Napoleon


“Tiga gumpalan api yang terpisah memuncak hingga tinggi sekali, dan seluruh permukaan gunung tampak segera diselimuti oleh lava yang berpijar, yang meluas hingga ke jarak yang sangat jauh, di antaranya sebesar kepala, jatuh dalam cakupan diameter beberapa kilometer, dan pecahan-pecahan yang tersebar di udara telah mengakibatkan kegelapan total. Abu yang dikeluarkan begitu banyak sehingga mengakibatkan kegelapan total di Jawa, yang jaraknya sejauh 310 mil (500 km). Abu ini mengakibatkan kegelapan total saat tengah hari, dan menutupi tanah dan atap  dengan lapisan setebal beberapa sentimeter.”
Demikian catatan harian Sir Stamford Raffles, Gubernur Jenderal Belanda di Jawa tentang letusan Gunung Tambora, April 1815. Letusan itu tiga kali lebih kuat dari bencana Krakatau 1883. Awan panas mencapai suhu 800 derajat Celsius.
free counters