Kepercayaan Dan Tradisi Masyarakat Sambori


Pada masa lalu terutama pada zaman pra sejarah sudah lazim di belahan Bumi ini, masyarakat menganut kepercayaan Anisme dan Dinamisme. Demikian pula halnya di Sambori dan Bima pada umumnya. Kepercayaan akan roh-roh nenek moyang dan penyembahan pohon-pohon besar yang diyakini memiliki kekuatan gaib juga menjadi kepercayaan masyarakat Sambori. Ada pohon beringin besar di ujung Kampung Sambori Lengge yang dulu dijadikan tempat pemujaan.
Tidak hanya itu saja, keyakinan masyarakat Sambori pada hal-hal mistik cukup beragam misalnya  pada bagian kiri halaman uma lengge yang sudah berusia lebih dari 300 tahun yang ditumbuhi rerumputan dilarang atau pantang untuk diinjak atau dilewati baik untuk warga sambori itu sendiri juga warga pendatang.
Sejarah Uma Lengge pun masih kental dengan nilai mistiknya, yaitu Uma Lengge yang dihuni oleh ompu dan wa`i, yang konon pada uma lengge tersebut masih menyimpan benda benda yang menyimpan nilai mistik, benda-benda tersebut antara lain buja yang memiliki nama masing masing yaitu lalino, dan lajaro serta la aji, dalam uma lengge itu juga terdapat seekor anjing hitam (Lako me`e) yang konon sering muncul sebagai penunggu di dalam uma lengge tersebut.
Pada masa lalu, Upacara dan ritual merupakan bagian penting dalam kehidupan masyarakat Sambori. Seluruh fase kehidupan manusia tidak terlepas dari Upacara dan prosesi adat. Pada masa lalu, di kalangan warga Inge Ndai ini memiliki beberapa upacara dan ritual antara lain Upacara Kelahiran, Suna Ro Ndoso (Khitanan), Nika Ro Neku (Pernikahan), Kanggihi Kanggama (Pertanian), Ngaha Ncore (Tolak Bala), serta Upacara/Ritual Kematian.
     Namun sejak Islam masuk di Bima dan menjadi agama resmi kerajaan pada tahun 1640 M, masyarakat Sambori yang sangat patuh pada raja dan Sultan akhirnya memeluk Islam. Seluruh kepercayaan lama mereka tinggalkan. Hingga kini, 100 % warga Sambori dan sekitarnya beragama Islam. Bahkan di sebelah selatan Sambori terdapat sebuah desa yang menjadi tempat pengungsian Sultan Abdul Kahir I dan menjadi pusat penyebaran Islam di tanah Bima. Desa ini bernama Kalodu yang dulunya bernama KAMINA. Di sinilah terdapat masjid tertua dan masjid pertama yang berdiri di tanah Bima. Saat ini Masjid Kamina telah direkonstruksi oleh Pemerintah Kabupaten Bima dan menjadi bangunan Cagar Budaya untuk mengenang sejarah masuknya Islam di Tanah Bima.
     Di atas desa Sambori yang berjarak sekitar 1 Km terdapat 4 buah kuburan kuno yang diyakini sebagai kuburan orang-orang yang menyiarkan agama Islam yang sering melewati lereng Sambori. Kuburan itu terletak di puncak gunung Tuki yang merupakan anak gunung Lambitu di sebelah utara atas kampung Sambori.   

Tradisi Tapa Gala
Cara penyambutan Tamu di Sambori cukup unik. Jika di daerah lain umumnya mereka menabur beras kuning, tapi di Sambori memiliki tradisi Tapa Gala (Tapa berarti Tahan, Gala berarti Bambu). Tapa Gala adalah menahan dengan bambu. Dalam tradisi ini, warga Sambori menahan para tamu yang mengunjungi desanya dengan meletakan bambu muda sepanjang 3 meter atau selebar jalan yang akan dileawati. Kemudian, salah seorang tetua adat memberikan sebuah parang kepada ketua rombongan tamu dan dipersilahkan untuk memotong bambu muda tersebut. Setelah bambu terpotong, maka para tamu sudah bias memasuki kampung ( Desa).
Tradisi Tapa Gala bagi masyarakat Sambori dimaksudkan sebagai sebuah penghormatan kepada Tamu untuk memotong dan menebas segala halangan rintangan yang terjadi selama berkunjung di Sambori. Tapa Gala juga sebagai symbol kebersamaan antara pendatang dengan warga Sambori.
Dalam prosesi pernikahan juga Tapa Gala dilakukan ketika rombongan calon pengantin pria memasuki Sambori. Tetua adat dan keluarga calon pengantin wanita menahan para Tamu dengan membentangkan Bambu untuk dipotong. Sebelum pemotongan bambu, dua belah pihak sambil melempar pantun yang memikat. Selanjutnya Bambu dipotong oleh ketua rombongan untuk memasuki tempat Jambuta (Pesta).    

Syair Kehidupan Lereng Lambitu


Masyarakat Sambori dan sekitarnya adalah masyarakat yang memiliki cita rasa seni tinggi. Syair–syair kehidupan dan keluguan peradaban tercecer dari mulut-mulut damai laki dan perempuan Sambori. Hampir seluruh aktifitas hidup di Sambori tidak terlepas dari syair dan nyanyian yang berisi pantun, nasehat, petuah serta pujian terhadap yang Maha Kuasa. Salah satu contoh adalah syair Belaleha yang berarti Hidup Mati Dengan Tuhan. Setelah Islam masuk di Sambori, syair Belaleha pun disesuaikan dengan ajaran dan aqidah Islam.   
Saat ini seni tari dan atraksi kesnian Sambori  yang masih tersisa tinggal beberapa jenis saja. Masih ada lima jenis atraksi kesenian baik berupa tarian, atraksi ketangkasan maupun seni music vokal. Atraksi itu adalah Kalero, Belaleha, Arugele, Bola La Mbali dan Mangge Ila, Mpa’a Manca serta Mpa’a Lanca. 

a.    Kalero
Kalero, yaitu jenis tari upacara untuk menghormati arwah leluhur serta agar anak cucunya yang masih hidup dijauhkan dari bencana. Sebenarnya Kalero bukanlah jenis tari utuh, melainkan merupakan perpaduan tari dan seni musik vokal. Tarian dan Nyanyian Kalero diiringi musik gendang, gong dan Serunai. Sambil bernyanyi, para penari Kalero melakukan gerakan berlari kecil mengelilingi satu sama lain dalam posisi melingkar.
Penari Kalero terdiri dari enam sampai delapan orang penari. Sedangkan pemain musik terdiri dari lima orang yaitu dua orang penabuh gendang, satu orang pemukul Tawa-Tawa (Bima=Katongga), dan seorang peniup Sarone (Sejenis alat musik tiup khas bima yang dibuat dari daun lontar. 

b.    Belaleha
Menurut sejarahwan dan budayawan Bima, Belaleha merupakan seni music vokal yang tertua. Seni vokal ini berisikan doa dan pengharapan agar tanah dan negeri, keluarga dan  masyarakat senantiasa mendapat perlindungan dari Sang Khalik dan dijauhkan dari bencana. Secara umum alunan vokal Belaleha dilantunkan pada acara sunatan/khitanan dan acara pernikahan. Sehingga di kalangan masyarakat Sambori dikenal dengan Belaleha Suna ro Ndoso (Khitanan) dan Belaleha Nika Ro Neku (Pernikahan). Syair Belaleha berisi petuah, nasehat, pantun dan pujian  dan harapan kepada yang Maha Kuasa.
Sesuai fungsinya, Belaleha dibagi dalam dua jenis yaitu  Belaleha Randa dan Belaleha Ranca. Belaleha Randa dihajatkan untuk penobatan seseorang dalam satu upacara adat dan pada masa pra Islam untuk persembahan sesajian, tetapi setelah Islam ritual itu tidak dilaksanakan lagi. Sedangkan Belaleha Ranca digelar untuk hiburan biasa.
 
Syair Belaleha

Belaleha,
Alona Tembe Kala
Aloyilana matiri nggunggu
Ndoo poda dikatente Cepe

Belaleha
Ria Ese Tolo Reo
Mamuna Tembe me’e ma riu
Dodoku di salampe cempe

Belaleha
Nuri se tolo naru
Manangi la ntonggu tolu
Oi oluna sacanggi moro

Bela leha
Akadu la joa
Makidi katake hidi
Rasapana ra ngari dompo

Belaleha
Akadu dou matua
Ma wi’ina nggahi karenda
Karenda da mbali mbua

Catatan : syair ini dilantunkan untuk menghibur anak-anak yang lagi disunat. Dan dihajatkan untuk meringankan rasa sakit sang anak ketika disunat.

c.    Arugele
Secara umum Arugele adalah tarian dan nyanyian yang berhubungan dengan tanam dan panen. Oleh karena itu, atraksi seni ini biasa digelar di sawah dan huma ketika mulai menanam maupun pada saat panen. Tarian dan nyanyian Arugele dibawakan oleh 6 sampai 8 orang perempuan baik dewasa maupun para gadis. Sambil menyanyi mereka memegang tongkat kayu yang ujungnya telah dibuat runcing dan ditancapkan ke tanah. Mereka berbaris dan melakukan gerakan menancapkan kayu yang diruncingkan itu kemudian menaburkan butir-butir padi, jagung atau kedelai ke tanah yang telah mereka lubangi dengan kayu runcing tadi. Sementara kaum lelaki mengikuti alunan langkah mereka untuk merapikan dan menutup kembali tanah yang telah ditaburi bibit tadi.
Di kalangan masyarakat Bima ada sejenis tari yang mirip dengan arugele Donggo Ele, yaitu tari sagele, yang biasanya dipentaskan ketika menanam padi di sawah ladang, kemungkinan tari Sagele berasal dari tari Arugele Donggo Ele. Tari sagele hanya dikenal oleh Orang Bima di kecamatan Wawo dan sekitarnya, serta di kelurahan Lelamase Kota Bima.
Seperti halnya Belaleha, Arugele pun berkembang dan dilantunkan bukan hanya pada saat menanam atau panen, tapi nyanyian Arugele juga dilantunkan pada saat acara khitanan maupun pernikahan.
Syair Arugele Ngguda (Arugele Untuk Menanam)
Gele Arugele
Gele Badoca
Lirina Pana Liro
     Kone di sarei todu kai sarau
      Jagaku palona pahumu piri pela
      Bohasi baliro pahu me’e taluru
     
      Gele Arugele
      Lino na tolo lino ntauka kantolo
      Linona moti lino ntau balata
      Linona ade tiwara dou ma eda

      Gele Arugele
      Ura bura aka main onto doro
      Madama dodo dasaina tolo
      Jagaku mbeca tembe do’o ra cepe

      Gele Arugele
      Papa pai la tana’u ra nefa
      Campo konci la sabua mafaka
      Musyawara kabou mampasa

Catatan : Syair ini menggambarkan suasana di sawah lading ketika menanam, hijaunya alam, terik mentari, nyanyian burung, kebersamaan dan seluruh aktifitas para petani di sawah/lading dan huma.

d.    Nyanyian Bola La Mbali dan Mangge Ila
Nyanyian ini cukup sakral. Alunan syair dan lagunya cukup syahdu. Menurut pengakuan para penuturnya, syair dan lagu ini dinyanyikan pada saat-saat tertentu saja yaitu ketika seorang anak mengalami penyakit cacar, dan orang-orang yang mengalami penyakit menahun. Nanyian ini sekaligus menjadi mantra untuk memohon kesembuhan kepada Sang Khalik. Biasanya anak-anak yang kena cacar ditidurkan, kemudian para perempuan/kaum ibu duduk melingkar di sekeliling si sakit dan melantunkan syair Mangge Ila dan Bola La Mbali. 
Syair Bola La Mbali
E, hai Bola La Mbali
Ndo Au La Mbali
Sima Kaila
Ei la dei bola
Ngaundaina, e bola la mbali

Syair Mengge Ila
Mangge ila nai 2 x
Ilae bala mange
E Ruma ra ndaita Ruma
Ruma ndaita su’u kai ruma
Ila e Mangge….!

e.    Mpa’a Manca
Tari ini dikategorikan Tari  Perang yang dimainkan oleh dua orang prajurit laskar kesultanan, ciptaan Sultan Abdul Khair Sirajuddin. Diilhami oleh gerakan tari Mbojo Mpa’a kapodo (tari rakyat) yang dipandukan dengan gerakan penca pinang kabau. Diiringi musik genda Mbojo, bersenjatakan kopodo (sepotong kayu ukuran sekitar 25 cm dan tumpul) atau pemukul dengan aksesoris pasapu monca (sapu tangan kuning) di tangan kiri. Tari ini berkembang pesat di Sambori dan sekitarnya hingga saat ini.
Gerakan Mpa’a Manca mirip dengan pencak silat. Pada tahap awal dua pendekar yang akan berlaga saling menampilkan gerakan-gerakan dan atraksi individu yang cukup menarik. Kemudian pada fase kedua mereka mulai memainkan gerakan menggunakan Kapodo dan saling menyerang. Ketika para pendekar saling menyerang alunan gendang pun trus bertalu-talu. Atraksi kesenian ini berdurasi sekitar 15 menit. Dan menjelang berakhirnya atraksi kedua pendekar bersalaman dan berangkulan sambil memberi hormat kepada para penonton.

f.     Mpa’a Lanca (Adu Betis)
Tarian dan atraksi kesenian tradisional Mbojo khusus untuk kaum pria didominasi oleh tarian dan atraksi ketangkasan. Tak ketinggalan pula di Sambori dan sekitarnya. Mpa’a Lanca atau yang dikenal juga dengan atraksi Adu Betis adalah salah satu atraksi ketangkasan yang bisa digolongkan dengan atraksi paling tua di tanah Bima.
Hanya orang-orang tertentu saja yang bisa memainkan atraksi ini. Karena dalam atraksi ini membutuhkan keahlian dan kekebalan khsusus bagi para pemainnya. Sebelum atraksi dilangsungkan, para pemain Lanca harus diisi dulu dengan mantera-mantera dan ilmu kebal.
Lanca dimainkan oleh 4 orang laki-laki dewasa dengan ketentuan 2 orang menyerang dengan menendang betis lawannya. Sementara dua orang lainnya bertahan dengan mendempetkan betis masing-masing. Sebagaimana Mpa’a Manca, Lanca juga diringi alunan gendang, gong dan serunai.  Atraksi ini berlangsung dalam durasi sekitar 15 menit. Dan sebelum atraksi berakhir, para pemain bersalaman dan memberi hormat kepada para penonton. 

Ragam Tata Busana Masyarakat Sambori


Salah satu peralatan dan perlengkapan hidup yang sangat diperhatikan oleh masyarakat Sambori dan sekitarnya adalah “Kani Ro Lombo” (pakaian). Pengadaan pakaian harus berpedoman pada adat shahih (adat yang baik). Cara berpakaian, warna, bentuk serta jenisnya tidak boleh bertentangan dengan nilai dan hormat adat. Bagi Masyarakat Sambori,  pakaian merupakan salah satu kebutuhan yang mendasar bagi masyarakat. Fungsi utamanya adalah untuk menutup aurat, memilihara kesehatan, sebagai symbol status sosial dan untuk menambah kewibawaan bagi si pemakai.
Tata cara berpakaian, bentuk serta warna dan seni aksesorisnya harus sesuai dengan etika dan estetika masyarakat . Pakaian harus harus diperoleh dengan cara halal,  bukan dengan cara yang dilarang oleh agama atau yang haram. Pakaian yang memenuhi persyaratan seperrti itulah yang dinilai “kani ro lombo ma ntika raso” (pakaian yang indah dan bersih) oleh masyarakat.
     Bentuk dan warna pakaian beserta kelengkapannya mengundang nilai luhur lagi mulia, harus mampu disosialisasikan oleh si pemakaianya. Karena menurut norma adat antara pakaian dan si pemakai harus sesuai dengan bunyi ungkapan “Raso Ro Ntika Si Kani Ro Lombomu, Karaso Ro Ntikapu Ade ro Itikamu”, secara singkat makna dari ungkapan itu adalah “kalau anda memakai pakaian yang indah dan bersih, maka anda harus pula membersihkan nurani dan itikadmu”.
Pakaian adat  masyarakat Sambori agak berbeda dengan pakaian adat suku Bima- Dompu pada umumnya. Dengan kekhasanya, masyarakat Sambori ternyata mampu tampil beda. Ada perbedaan yang jelas antara pakaian sehari – hari dengan resmi, laki – laki dan wanita bahkan remaja dan orang tua.

Pakaian Sehari-Hari Kaum Lelaki         
Untuk pakaian sehari–hari laki–laki dewasa dan tua biasanya memakai Sambolo (ikat kapala) yang terbuat dari kain kapas tenunan sendiri dengan hiasan kotak–kotak berwarna hitam atau putih. Dipadu dengan baju mbolo wo’o atau baju tanpa kerah yang terbuat dari kain katun dijahit sendiri dan biasanya berwarna hitam dan putih. Sarungnya bukan nggoli melainkan tembe me’e (sarung hitam) khas Sambori yang dipintal dan ditenun sendiri dari bahan kapas dan diberi warna hitam dari ramuan nila dan taru. Cara pemakaiannya dengan cara dililitkan pada bagian perut, dalam bahasa Bima disebut Katente. Untuk aksesoris lazimnya mereka mengenakan weri atau bala (kain ikat pinggang) yang diselempangkan melingkar pada bagian perut sampai di atas paha yang berrfungsi untuk menguatkan lilitan sarung atau katente.

Pakaian Perempuan Tua Dan Dewasa           
Lagi pula untuk perempuan tua dan dewasa, mereka umumnya mengenakan baju poro me’e yang terbuat dari kain katun yang dijahit sendiri dan bentuknya menyerupai baju poro pada pakaian adat masyarakat Bima umumnya. Sarungnya yakni tembe me’e, yang dipintal dan tenun sendiri, dibuat agak panjang karena cara memakainya yaitu dengan cara dimasukan secara lurus melalui kepala atau kaki. Kemudian dibiarkan dilepas kembali sampai ke betis atau diatasnya diikat satu kali pada bahu, sekedar pelengkap mereka mengenakan kababu (Sejenis Selepang),yang diselempangkan pada bahu. Rambut pun tidak serampangan, mereka sangat menyukai tata rambut dengan membuat semacam ikatan yang di bentuk meninggi di atas kepala yang disebut samu’u tu’u.

Pakaian Untuk Remaja Pria
     Untuk remaja pria, ada pakaian khasnya. Mereka biasanya mengenakan baju yang dibuat dari benang katun yang berwarna putih atau warna lainnya biasanya berupa kemeja lengan pendek. Sarungnya tembe me’e yang ditenun sendiri. Ikat pinggang atau salepe, terbut dari kain tenun sendiri. Biasanya berbentuk seperti selendang yang di buat memanjang dengan lebar kurang dari ukuran selendang. Mereka pun mengenakan cincin yang terbuat dari bahan besi putih, perak diberi batu akik.

Pakaian Untuk Remaja Puteri
     Untuk remaja putri, lazimnya mengenakan baju poro me’e yang dijahit sendiri yang terbuat dari kain katun. Sarungnya adalah tembe me’e biasanya bergaris putih yang terbuat dari benang kapas yang di pintal dan ditenun sendiri. Supaya kelihatan anggun, remaja putri seringkali mengenakan kababu yang terjuntai dari bahu ke bawah dengan cara diselempangkan. Supaya tanpak manis, rambutnya di tata dengan mengikat di bagian  belakang kepala  yang sisebut Samu’u. Adapun untuk perhiasan, para remaja putrinya mengenakan kondo (kalung) yang terbuat dari biji – bijian berwarna merah dan hitam, jima edi (gelang kaki), jima rima (gelang tangan) yang terbuat dari besi putih atau perak dan menyerupai ular.

Pakaian Untuk Berpergian         
Pakaian berpergian untuk laki-laki dewasa adalah Sambolo yang terbuat dari kapas yang dipintal dan ditenun sendiri. Warnanya hitam dan kotak-kotak putih. Cara memakainya yaitu menjalin masing-masing ujung sehingga melingkari kepala dalam keadaan tertutup. Cara seperti ini disebut Sambolo Toho. Mereka biasanya memakai baju kemeja kerah pendek yang terbuat dari benang katun atau kain tetoron. Sarungya yaitu tembe me’e yang terbuat dari benang kapas yang ditenun sendiri. Cara memakainya dililitkan pada bagian perut atau yang dikenal dengan katente. Mereka melengkapi diri dengan senjata yang berupa parang yang ujungnya bengkok yang disebut Cila Mboko bagi laki-laki tua dan parang yang bentuknya lurus bagi laki-laki dewasa. Cara memakainya yaitu parang dan sarungnya telah disiapkan tali khusus, kemudian tali tersebut diikatkan melingkar pada pinggang dan parangnya diletakkan pada pinggang sebelah kiri.
Untuk perempuan tua dan dewasa, umumnya mengenakan baju poro me’e yang terbuat dari benang kapas hasil tenunan dan jahitan sendiri. Sarungnya yakni tembe me’e (Sarung Hitam) yang diikatkan pada bagian pinggang kemudian dibiarkan lurus sampai mata kaki. Cara memakai seperti ini disebut Sanggentu. Mereka mengenakan penutup kepala berupa todu(Kerudung) yang terbuat dari kain tipis biasanya berwarna putih dan disongket benang perak. Selalu terselip Wonca(Bakul) yang terbuat dari anyaman bambu yang dipergunakan sebagai bekal di jalan atau berisi rempah-rempah untuk diberikan pada lembaga yang berada di desa lain. Biasanya mereka tidak memakai alas kaki.
Untuk remaja pria, mereka biasanya mengenakan baju kemeja lengan pendek yang terbuat dari benang katun atau tetoron yang berwarna putih. Mereka memakai ikat pinggang yang terbuat dari kain yang dibuat agak melebar sehingga memperkuat ikatan atau lilitan sarung. Senjatanya berupa golok yang terbuat dari besi dan sarung dari kayu yang diselipkan pada pinggang. Alas kaki  adalah Sadopa yang terbuat dari kulit binatang atau karet. 
Untuk remaja putri biasanya mengenakan tata rambut yang ditata sedemikan rupa sehingga membentuk seperti undak di atas kepala yang disebut samu’u Tuta. Umunya mereka menggunakan  baju poro me’e (Baju  lengan pendek hitam) yang terbuat dari kain tenun atau dari kain blacu berwarna hitam yang diberi hiasan renda pada ujung bawah dan pada bagian kerahnya. Sarungnya terbuat dari benang kapas yang dipintal dan ditenun sendiri. Supaya tampak anggun, mereka mengenakan kababu yang diselempangkan pada bahu, yang terbuat dari benang katun yang disongket dengan benang perak. Untuk perhiasan, remaja wanita memakai karung manik-manik yang terjuntai dari leher ke dada. Mereka tidak memakai alas kaki. 

Bahasa INGE NDAI (Sambori)


Sambori  dan sekitarnya adalah wajah  lama Bima yang memiliki keunikan tersendiri baik dari sisi sejarah maupun budayanya. Salah satu dari keunikan itu adalah Bahasa yang dituturkan warganya yang berbeda dengan bahasa Bima atau Nggahi Mbojo. Adalah sesuatu yang unik dan klenik tentunya dimana dalam satu wilayah terdapat beberapa bahasa yang digunakan dan pernah hidup bersama masyarakatnya.  
Menurut sejarah perkembangannya Bahasa Bima dibagi dalam 2 kelompok yaitu :
1.       Kelompok Bahasa Bima lama meliputi ;
a.      Bahasa Donggo, dituturkan oleh masyarakat Donggo Ipa yang bermukim di pegunungan sebelah barat teluk Bima meliputi desa O’O, Kala, Mbawa, Palama, Padende, Kananta dan Doridungga.
b.      Bahasa  INGE NDAI yang dituturkan  oleh masyarakat Donggo Ele yang bermukim di lereng Gunung Lambitu  Wawo Tengah) meliputi desa Tarlawi, Kuta, Sambori, Teta, Kaowa, dan Kaboro.
2.      Kelompok Bahasa Bima baru, lazim disebut dengan Nggahi Mbojo, digunakan oleh masyarakat umum di Bima dan berfungsi sebagai bahasa ibu. Khusus bagi masyarakat Sambori dan pemakai bahasa Bima lama lainnya , Bahasa Bima baru berfungsi sebagai pengantar komunikasi dengan orang lain di luar kalangan mereka. Sedangkan khusus untuk di kalangan mereka, Bahasa Sambori dan Donggo tetap digunakan sebagai alat komunikasi. (H. Abdullah Tayib, BA : Sejarah Bima Dana Mbojo Hal : 36) 
Belum diketahui pasti, kapan Rumpun Bahasa INGE NDAI  mencapai puncaknya dan sejak kapan pula mulai pudar dalam penuturan warganya. Bahasa INGE NDAI menyebar di sejumlah kampung dan desa yang ada di gugusan pegunungan Lambitu di tenggara Kota Bima seperti di Desa Tarlawi, Kaboro, Teta, Sambori, Kadi (Kaowa) dan Kuta. Desa-desa ini masuk dalam wilayah kecamatan pemekaran Lambitu, kecuali Desa Tarlawi yang masuk dalam wilayah kecamatan Wawo karena jaraknya sekitar 7 KM dari Wawo.
Jika dicermati dari beberapa kata memiliki kesamaan dengan bahasa Bugis, Flores, Manggarai, Sumbawa, Melayu dan suku-suku lain di Indonesia. Misalnya Manasu dan Manu yang berarti memasak, sama dengan bahasa Bugis. Asu yang berarti anjing, sama dengan bahasa Manggarai dan Sumbawa. Mate yang berarti mati sama dengan Bahasa Sumbawa dan Bugis. Kemiri, Nangka juga sama dengan bahasa Melayu. Dan masih banyak kosa kata lainnya yang memiliki persamaan. Tapi pada sebagian besar kata-katanya memiliki kesamaan dengan Nggahi Mbojo (Bahasa Bima).
Berikut  deretan 100 Kata Rumpun INGE NDAI :

No
Sambori
Mbojo
Indonesia
1.
Manga
Ngaha
Makan
2.
Enu
Nono
Minum
3.
Pou
Fo’o
Mangga
4.
Hadu
Haju
Kayu
5.
Hudu
Hidi
Halaman Pekarangan
6.
Manasu
Mbako
Memasak
7.
Uta Moro
Uta Mbeca
Sayur
8.
Uta Mbohi
Uta Moti
Ikan Laut
9.
Kaliu
Ncai
Jalan
10.
Asa A’u
Ncai Uma
Pintu Rumah
11.
Kambau
Sahe
Kerbau
12.
Lako/Asu
Lako
Anjing
13
Diha
Riha
Dapur
14
Kari
Hari
Tertawa
15.
Wine
Siwe
Perempuan
16.
Kababu
Baju
Baju
17.
Pare
Fare
Padi
18.
Latu
Jago
Jagung
20.
Tu’a
Teka
Naik
21.
Purru
Londo
Turun
22.
Piri
Rata
Rata
23.
Po’o
Tuta
Kepala
24.
Lima
Rima
Tangan
25.
Langge
Edi
Kaki
26.
Paresa
Nuntu
Bicara
27.
Kanu
Kani
Pakaian
28
Manu
Janga
Ayam
29.
Kataba
Kapenta
Papan Kayu
30.
Wu’a
U’a
Pinang
31.
Nangga
Nangga
Nangka
32.
Kangguhu
Kanggihi
Bertani
33.
Dangga
Lampa
Jalan
34.
Dangga-Dangga
Lampa-lampa
Jalan-jalan
35.
Palai
Rai
Lari
36.
Mate
Made
Mati
37.
Diu
Ndeu
Mandi
38.
Osi
Waca
Cuci
38.
Watu
Wadu
Batu
39.
Sondo OI
Condo OI
Mengambil Air
40.
Kodo
Kidi
Berdiri
41.
Tu’o
Doho
Duduk
42.
Out
Maru
Tidur
43.
Wile
Ba
Bola
44.
Sapo
Salaja
Dangau
45.
Wea
Mbei
Beri
46.
Kaleki
Sawai
Kikir
47.
Wante
Na’e
Besar
48.
Boki
To’i
Kecil
49.
Dore
Doro
Gunung
50.
Le’a
Paki
Buang
51.
Ala
Weha
Ambil
52.
Dompo
Cila
Parang
53.
Somi
Piso
Pisau
54.
Toka
Ponggo
Kapak
55.
Siru
Ciru
Sendok
56.
Bangga
Tolo
Sawah
57.
Soki
Sori
Sungai
58.
Ka O’u
O’o
Bambu
59.
Oro
Kuta
Pagar
60.
Saendo
Tio
Lihat
61.
Mbuta
Mbuda
Buta
62.
Mpoki
Mpinga
Tuli
63.
Pawara
Kawara
Ingat
64.
Salupa
Nefa
Lupa
65.
Sui Inge
Ne’e Angi
Pacaran
66.
Long Ate
Lingi Ade
Rindu
67.
Teko
Wisi
Betis
68.
Paka
Wangga
Paha
69.
Lawolo
Lawili
Dada
70.
Yilu
Ilu
Hidung
71.
Matta
Mada
Mentah
72.
Yille
Ntanda
Nonton
73.
Wiro
Fiko
Telinga
74.
Ka’e
Kinggi
Jari
75.
Linte
Lingga
Bantal
76.
Rae
Nahu
Saya,aku
77.
Oe
Nggomi
Kamu
78.
Yeme
Ita
Anda
79.
Saru
Dou
Orang
80.
Ngenggo
Maki
Capek,lelah
81.
Mbou
Bou
Baru
82.
Ntoiti
Ntoi
Lama/dulu
83.
Pengi
Raho
Minta
84.
Urra
Ura
Hujan
85.
Maleko
Landa
Jual
86.
Cola
Weli
Beli
87.
Loa
Roa
Periuk
88.
La’i
Rahi
Suami
89.
Wei
Wei
Istri
90.
Rana
Riana
Mertua
91.
Lito
Rido
Menantu
92.
Toba
Bale
Lempar
93.
Laru
Lapa
Parit
94.
Tutu
Dudu
Landak
95.
Topo
Dipi
Tikar
96.
Yuma
Uma
Rumah
97.
Songo
Ncango
Goreng
98.
Tune
Muja
Gentong
99.
Tunu
Ka’a
Bakar
100.
Nasu
Lowi
Rebus Sayur

Technorati : RPB378VBTQK4