Khitanan Dan Khatam Al Qur’an

Sebelum dilaksanakan khitanan, maka dilaksanakan berbagai upacara adat, seperti antara lain Zikir dan Kapanca, meratakan gigi atau yang dikenal dengan Ndoso,Compo Sampari dan Compo Baju, Suna Ro Saraso (Khitan) dan juga khatam Alqur’an. Berikut tahapan prosesi upacara khitan dan khataman Alqur’an yang lazim dilaksanakan masyarakat Bima-Dompu :

1. Alunan Zikir Dalam Kapanca
Kapanca adalah upacara penempelan kapanca (inai) di atas telapak tangan anak–anak yang dikhitan. Penempelan dilakukan secara bergilir oleh para tokoh adat yang diiringi Ziki kapanca yang dilagukan oleh beberapa orang pezikir dan tidak diiringi musik rebana. Syair zikir berisi pujian kehadapan Allah dan Rasul.
Upacara kapanca merupakan peringatan bagi anak, bahwa nanti kalau sudah dewasa harus berani membela kebenaran dan keadilan walau tangan bercucuran darah yang disimbolkan dengan warna kapanca.

2. Meratakan Gigi (Ndoso)
Ndoso adalah upacara membersihkan dan meratakan gigi anak yang dikhitan dengan potongan kecil kayu tatanga (jarak) yang getahnya bisa menguatkan gigi. Hal ini dilakukan sebagai peringatan pada anak bahwa mulut dan gigi harus selalu bersih dan tidak boleh dikotori dengan makanan yang haram.

3. Compo Sampari dan Baju
Upacara compo Sampari atau pemasangan keris (memakaikan keris) kepada anak laki–laki yang akan di Suna Ro Ndoso. Dilakukan oleh seorang tokoh adat, diawali dengan pembacaan do’a disusul dengan membaca shalawat Nabi. Upacara ini digelar sebagai peringatan bahwa sebagai anak laki–laki harus memiliki kekuatan dan keberanian yang dilambangkan dengan sampari (keris).
Compo Sampari
Sedangkan Upacara compo baju yaitu upacara pemasangan baju kepada anak perempuan yang akan di saraso ro ndoso. Baju yang akan dipasang sebanyak 7 lembar baju poro(Baju pendek) yang dilakukan secara bergilir oleh para tokoh adat dari kaum ibu. Makna compo baju adalah merupakan peringatan bagi anak, kalau sudah di saraso berarti sudah dewasa. Sebab itu harus menutup aurat dengan rapi. Tujuh lembar baju adalah tujuh simbol tahapan kehidupan yang dijalani manusia yaitu masa dalam kandungan, masa bayi, masa kanak – kanak, masa dewasa, masa tua, alam kubur dan alam baqa(akherat).

Upacara Kelahiran (Nggana Ro Nggina) Bima Bag. 1

Dalam tradisi masyarakat Bima-Dompu dikenal ada dua rangkaian upacara Adat dalam kehidupan seorang anak manusia. Dua rangkaian tersebut yaitu Upacara adat Nggana ro Nggina dan Nika Ro Neku. Nggana Ro Nggina prosesnya dimulai dari bayi dalam kandungan hingga Keka atau Aqiqah.
Sedangkan Nika Ra Neku prosesnya berawal dari kegiatan La Lose Ro La ludi (Kunjungan Rahasia orang tua seorang pemuda kepada orang tua gadis) sampai pada kegiatan Pamaco atau pemberian sumbangan kepada penganten baru.
Upacara Nggana Ro Nggina (Upacara Kelahiran) merupakan mata rantai kegiatan upacara daur hidup, yang meliputi upacara Kiri Loko (Nuzul Bulan), Nggana (Melahirkan), Upacara Keka atau Aqiqah, Upacara Cafi Sari (menyapu lantai), Boru dan Dore (Mencukur Rambut dan Menginjak Tanah), dan Mbei Ngara (Pemberian Nama).
1. Makna Hidup Dalam Kiri Loko

Dalam tradisi Masyarakat Bima-Dompu juga dikenal adanya Upacara Nujuh Bulan atau dikenal dengan Kiri Loko atau Salama Loko. Upacara ini digelar saat kandungan seorang ibu yang baru pertama kali mengalami hamil memasuki usia tujuh bulan.
Upacara ini penuh dengan simbol dan makna. Karena upacara ini dihajatkan untuk menjaga agar sang ibu bersama calon bayi berada dalam keadaan sehat wall afiat baik jasmani maupun rohani. Dengan harapan apabila sang bayi sudah lahir dengan selamat akan menjadi anak yang beriman, bertaqwa, cerdas dan berguna bagi agama, bangsa dan negara.
Upacara dilaksanakan pada waktu “Maci Oi Ndeu” (manis air mandi) dalam pengertian pada waktu yang cocok untuk memandikan bayi, yaitu sekitar jam 09.00 yang dihadiri oleh para ibu – ibu dan “Sando Nggana” (dukun beranak). Tapi seiring kemajuan ilmu kesehatan, peranan Sando Nggana sudah mulai berkurang. Pada masa sekarang, upacara ini didampingi oleh bidan dan juga Sando Nggana. Jadi perpaduan antara ilmu tradisional dan moderen tetap dilakukan oleh masyarakat Bima-Dompu.
Diawali dengan do’a bersama oleh para ibu memohon kepada Allah SWT agar sang ibu bersama bayi dalam kandungan selalu dalam keadaan sehat wal afiat. Karena itu upacara ini dinamakan upacara Salama Loko atau selamatan Perut.
Seusai berdo’a, maka Sando Nggana menggelar tujuh lapis sarung, kemudian ditutupi dengan kain putih. Pada setiap lapis sarung disimpan uang perak dan beras kuning. Tujuh lapis sarung sebagai simbol tujuh lapis langit dan tujuh lapis tanah tempat manusia hdup di dunia. Tujuh lapis sarung juga mengandung makna bahwa manusia akan mengalami kehidupan dalam tujuh tahap yaitu masa dalam kandungan, masa bayi, masa anak–anak, masa dewasa, masa tua, hidup di alam kubur dan yang terakhir hidup di alam baqa (akhirat).
Kain putih sebagai simbol keikhlasan seorang ibu dalam mengasuh dan mendidik putra–putri serta dalam mengemban tugas sebagai seorang istri dan ibu rumah tangga. Beras kuning adalah lambang kesejahteraan dan kejayaan keluarga dan uang perak mengandung makna sebagai modal dalam kehidupan.
Pada waktu yang ditentukan diawali bacaan Basmallah diikuti dengan shalawat, sang ibu tidur di atas hamparan kain putih yang telah disediakan. Sando Nggana mengoles dan mengurut perut sang ibu dengan sebutir telur yang telah diminyaki dengan minyak kelapa yang masih baru. Hal ini dikandung maksud agar sang bayi berada dalam posisi yang normal dan juga urat–urat perut ibu tidak berkerut. Pengolesan perut dilakukan secara bergilir oleh Sando Nggana kemudian diikuti oleh para tokoh adat perempuan.
Setelah itu Sando Nggana memandikan sang ibu dengan air dingin yang dicampur dengan Wunta Mundu (kembang melati), Wunta Kananga (kembang kenanga) dan wunta jampaka (kembang cempaka). Hal itu dilakukan sebagai simbol pengharapan seluruh keluarga agar sang ibu bersama sang bayi beserta seluruh keluarga mampu mengharumkan nama sanak saudara dan keluarga.
Kemudian Sando Nggana bersama para ibu menabur beras kuning ke hadapan para tamu sambil membagi–bagikan uang sedekah kepada anak–anak yang sudah menunggu di halaman rumah. Upacara ditutup dengan menikmati bersama “Mangonco” (Rujak) dan berbagai jenis kue tradisional dengan diakhiri pembacaan do’a.
Selama masa “Tani Weki” (mengandung) sang ibu bersama suami dan seluruh anggota keluarga harus mematuhi ketentuan adat sebagai berikut:
  • Piara nggahi ro eli (Memelihara Perkataan), suami dan isteri juga bersama keluarga tidak boleh sama sekali mengucapkan kata–kata yang kotor dan yang kasar.
  • Piara ruku ro rawi (memelihara prilaku atau kelakuan), suami isteri bersama anggota keluarga harus berusaha untuk meningkatkan amal saleh dan menjauhi perbuatan tidak terpuji.
  • Piara ngaha ro nono (Memelihara Makanan dan Minuman) suami dan isteri bersama anggota keluarga, harus menjauhkan diri dengan makanan yang haram dan diperoleh dengan cara–cara yang tidak terpuji. Harus memakan makanan yang halal dan bermanfaat bagi kesehatan jasmani dan rohani.
BuyBlogReviews.com

Upacara Kelahiran (Nggana Ro Nggina) Bima Bag. 2

Upacara Nggana Ro Nggina (Upacara Kelahiran) merupakan mata rantai kegiatan upacara daur hidup, yang meliputi upacara Kiri Loko (Nuzul Bulan), Nggana (Melahirkan), Upacara Keka atau Aqiqah, Upacara Cafi Sari (menyapu lantai), Boru dan Dore (Mencukur Rambut dan Menginjak Tanah), dan Mbei Ngara (Pemberian Nama).
2. Antara Hidup Dan Mati
Ketika umur kandungan sudah mencapai 9 bulan, ibu harus berhati–hati agar bayi dalam kandungan selalu sehat dan selamat. Selain itu ibu harus menjaga dan memeihara kesehatanya sambil terus berdo’a agar bayi dalam kandungan selalu sehat wal afiat.
Jika sudah ada tanda–tanda melahirkan, maka Sando Nggana bersama suami dan keluarga selalu berada disamping sang ibu. Mereka akan mempersiapkan obat–obat tradisional untuk sang ibu bersama bayinya. Bila sang bayi sudah lahir dengan selamat, maka ayah atau salah seorang ulama, akan membacakan ba (adzan) di telinga kanan dan Qama (Iqamat) di telinga kiri sang bayi. Hal ini dilakukan sebagai upaya awal untuk menanamkan keimanan dan ketaqwaan bayi agar kelak menjadi anak macia ima ro maloa ro sale (kuat imannya, pintar dan shaleh).
3. Aqiqah
Sebagai penganut ajaran Islam yang taat, masyarakat Bima-Dompu melaksanakan Aqiqah sesuai perintah Islam yang bersumber dari Alqur’an dan Hadist. Pelaksanaan aqiqah dilaksanakan pada hari ketujuh dari kelahiran. Hal ini berdasarkan hadist samirah di mana Nabi saw. Bersabda, ”Seorang anak terikat dengan aqiqahnya. Ia disembelihkan aqiqah pada hari ketujuh dan diberi nama.” (H.R. Al-Tirmidzi). Namun demikian, apabila terlewat dan tidak bisa dilaksanakan pada hari ketujuh, ia bisa dilaksanakan pada hari ke-14. Dan jika tidak juga, maka pada hari ke-21 atau kapan saja ia mampu. Imam Malik berkata : ”Pada dzohirnya bahwa keterikatannya pada hari ke-7 (tujuh) atas dasar anjuran, maka sekiranya menyembilih pada hari ke-4 (empat), ke-8 (delapan), ke-10 (sepuluh)  atau setelahnya aqiqah itu telah cukup”. Karena prinsip ajaran Islam adalah memudahkan bukan menyulitkan sebagaimana firman Allah  swt : ”Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu”. (QS. Al Baqarah : 185)
DSC04033
Hukum melaksanakan Aqiqah untuk anak yang baru dilahirkan adalah sunnah dan sangat dianjurkan dalam Islam sesuai pendapat dari jumhur imam-imam dan ahli fiqh. Hal ini dikuatkan dengan sabda Nabi dalam sebuah hadist : ”Sesungguhnya manusia pada hari kiamat nanti akan diminta tanggungjawabnya atas aqiqah, sebagaimana akan diminta tanggungjawabnya atas shalat-shalat lima waktu.”
Masalah kambing yang layak untuk dijadikan sembelihan aqiqah adalah kambing yang sehat, baik, tidak ada cacatnya. Semakin besar dan gemuk tentu semakin baik. Keharusan anak yang dilahirkan untuk menyentuh kambing yang disembelih untuk aqiqah, jelas tidak ada dasar hukumnya atau hanya kebiasaan saja.
Dianjurkan agar dagingnya diberikan dalam kondisi sudah dimasak. Hadist Aisyah ra. “Sunnahnya dua ekor kambing untuk anak laki-laki dan satu ekor kambing untuk anak perempuan. Ia dimasak tanpa mematahkan tulangnya. Lalu dimakan (oleh keluarganya), dan disedekahkan pada hari ketujuh.” (HR al-Bayhaqi)
4. Perilaku Hidup Bersih Dalam cafi sari
Secara harfiah cafi sari berarti menyapu atau membersihkan lantai. Pengertian cafi sari menurut adat Bima-Dompu adalah usaha awal dilakukan oleh orang tua agar sang bayi selalu menjaga kebersihan lahir bathin termasuk kebersihan lingkungan.
Tidak hanya itu, makna yang terkandung dalam ritual ini adalah pola hidup bersih dan sehat mulai dari makanan, minuman, lingkungan, kebersihan badan dan juga niat yang tulus dalam menjalani kehidupan dunia menuju akhirat.
5. Boru Dan Dore
upacara Boru atau mencukur rambut, merupakan sunah Rasul, seperti suna ro saraso, boru dilakukan oleh para ulama dan tokoh adat, dilakukan secara bergilir. Selesai upacara boru, dilanjutkan dengan upacara Dore yaitu meletakan telapan bayi di atas tanah yang disimpan dalam sebuah pingga bura (Piring Putih). Sebagai peringatan dini kepada anak bahwa ia berasal dari tanah dan akan hidup di atas tanah (bumi) dan akhirnya pasti kembali ke asalnya yaitu tanah. Rangkaian upacara cafi sari, upacara boru dan dore selalu diiringgi dengan lantunan Ziki Asrakah, Marhaban dan Barzanzi yang berisi pujian–pujian bagi Allah dan Rasul. Selain itu rangkaian upacara adat itu selalu diawali dan diakhiri dengan do’a, memohon kehadapan Allah SWT agar bayi bersama ayah ibu dan keluarga selalu mendapat perlindungan dari Allah, SWT.
6. Nama Sebagai Doa Dan Harapan Orang Tua
Sesuai dengan sabda Rasul, bahwa nama bagi umat islam, adalah do’a dan harapan ayah ibu dan keluarga, agar sang anak mengikuti sifat dan kepribadian mulia seperti makna nama yang diberikan kepadanya.
Menurut ketentuan adat, nama bayi harus mengikuti para Rasul dan para sahabat Nabi. Bagi anak–anak perempuan harus diberi nama seperti nama istri atau putri Nabi dan nama para tokoh perempuan islam yang tersohor. Dengan harapan agar putra–putri mereka mengikuti jejak perjuangan para Nabi, sahabat dan pejuang islam yang diikuti namanya.
Bagi masyarakat Bima-Dompu, nama adalah do’a dan harapan orang tua, agar anak memiliki akhlak yang mulia seperti akhlak dan pribadi orang yang diikuti namanya. Sebagai masyarakat yang taat pada ajaran islam, Masyarakat Bima-Dompu tidak dapat menerima ungkapan yang berbunyi “Apalah Arti Sebuah Nama”. Karena nama diyakini juga menjadi identitas dan karakter yang melekat pada pribadi orang.

==========================================================
BuyBlogReviews.com
==========================================================

Menambahkan Fungsi Scroll pada Widget Follower atau Pengikut Blog

Pada kesempatan kali ini saya ingin berbagi sedikit tentang Cara Menambahkan Fungsi Scroll pada Widget Follower atau Pengikut Blog. Menambahkan Fungsi Scroll pada sidebar blog tentunya sangat menghemat tempat pada blog. Apalagi kalau blog tersebut mempunyai banyak Widget atau Script, seperti Widget Follower yang terlalu panjang atau terlihat sedikit semrawut. Dengan menambahkan Fungsi Scroll pada Widget tersebut akan terlihat lebih rapih.
Bagi sobat yang kebingungan untuk menambahkan Fungsi Scroll pada Widget Follower atau Pengikut Blog sobat bisa baca tutorial ini sampai tuntas. Contoh nya bisa sobat lihat pada gambar di bawah ini.
Scrol
Trus bagaimana Cara Menambahkan  Fungsi Scroll pada Widget Follower atau Pengikut Blog?
Caranya sangat mudah kok, pasti sobat blogger sudah pada mengerti, nah buat sobat yang belum tau dan ingin tau silahkan ikuti langkah-langkah nya dibawah ini :
1. Login terlebih dahulu dengan menggunakan account Blogger sobat.
2. Klik tab Rancangan >> Edit HTML.
3. Klik Download Template Lengkap untuk mem-back up template, fungsinya untuk menghindari hal-hal tidak di inginkan.
4. Kemudian cari kode ]]></b:skin> , Gunakan tombol Ctrl + F untuk memudahkan pencarian.
5. Biasanya kode id untuk Widget Pengikut atau Follower seperti di bawah ini.
<b:widget id='Followers1' locked='false' title='Pengikut' type='Followers'/>
6. Maka untuk menambahkan scroll pada Widget Follower atau Pengikut silakan Copy kode di bawah ini dan paste di atas kode ]]></b:skin>

#Followers1 .widget-content{
border: 3px solid #cccccc;
height:200px;
width:auto;
overflow:auto;
}

Nb: 200px merupakan tinggi scroll, silakan diatur tingginya jangan sampai melebihi tinggi Widget Follower aslinya agar terbentuk penggulung atau scroll.

7. Dan yang terakhir Klik tombol SIMPAN TEMPLATE. selesai.
Mudah bukan cara membuat nya....
Semoga tutorial ini bermanfaat....

==========================================================
BuyBlogReviews.com
==========================================================

Susu Kuda Liar, Penjinak Kanker

Radio-radio swasta di Jakarta dan Bandung di era 1990-an ramai mengiklankan susu kuda liar Bima dengan segala khasiatnya. Beberapa testimoni muncul dalam acara on the air di radio dan dituliskan di majalah seperti Kartini. Dari testimony terungkap bahwa susu kuda liar menyembuhkan leukemia, bronchitis, kanker payudara hingga kanker darah. Sejak saat itu susu kuda liar dikenal sebagai obat dewa.
Komersialisasi berlebihan menyebabkan munculnya susu kuda liar palsu. Pamor produk asli Bima-Dompu ini pun surut kendati tak lenyap animo dan keyakinan masyarakat akan keampuhan susu kuda liar. 
 Hidup berkoloni lima hingga sepuluh ekor. Ya, kuda-kuda liar bisa ditemukan di Madapangga, Donggo, Sanggar, Wera, atau Pekat atau beberapa wilayah di Bima-Dompu. Kawanan itu hidup di lembah dan gunung-gunung. Tdak banyak dimanfaatkan untuk alat transportasi namun kuda-kuda tersebut membawa berkah tersendiri.
Ada beberapa hal unik yang tidak dijumpai orang luar dalam hubungan pemilik dengan kuda-kudanya. Mereka menangkap dengan menjebak , memancing memakai kuda betina hingga dengan tali laso. Yang manarik, ketika ditangkap pemilik langsung duduk di punggung kuda tanpa pelana. Padahal bagi orang luar daerah seperti di Jawa hal itu dianggap aneh.
Dalam acara pacuan kuda, para joki umumnya adalah bocah laki-laki. Mereka lincah dan tangguh.
Kuda Bima juga dikenal tangguh. Bahkan sudah teruji di medan perang ketika  Trunojoyo melawan Belanda di abad ke-16. Bima dan Gowa-Makassar ikut ikut membantu Trunojoyo. Adalah Sultan Nuruddin Abubakar Ali Syah (1682-1567) yang membawa kuda-kuda kapitan dari Bima ke Jawa.
Ternyata di balik keliarannya, tersembunyi obat yang berkhasiat menjinakkan aneka penyakit. Susu tersebut diperah dari kuda-kuda liar.
Sebagian orang meyakini susu kuda liar bisa menyembuhkan aneka penyakit berat seperti tumor, kanker dan liver. Bahkan menurut Google .Com penyakit yang bisa dijinakkan oleh susu kuda liar adalah anemia, asam urat, asma, avitaminosis, bronchitis, ginjal, gangguan pencernaan, kencing manis, leukemia, menurunkan kolesterol, paru-paru basah, rematik hingga TBC.
Pemerah susu biasa menyimpannya berhari-hari dalam kemasan botol sehingga susu menjadi basi. Namun hal itu tidak mengurangi minat orang ntuk menum susu kuda. Untuk mengurangi aroma tak sedap itu, susu tersebut bisa dicampur madu.
Di Dompu ada satu desa yang sudah lekat dengan susu kuda liar. Desa itu Saneo namanya. Kuda endemic setempat seperti di wilayah lainnya di Bima-Dompu tidak ditemukan di tempat lain di daerah tersebut.
Masalahnya sejauhmana usaha pemerintah bersama pemilik kuda untuk mempertahakan kuda lokal yang orisinil? Masuknya kuda Sumba dan perkawinan campur dengan kuda luar tersebut mengancam eksistensi kuda-kuda lokal. Itu artinya susu kuda liar yang dihasilkan oleh kuda dari hasil perkawinan silang tidak akan seampuh susu kuda-kuda endemik Bima-Dompu. *** Muslimin Hamzah

==========================================================
BuyBlogReviews.com
==========================================================

Mutiara, Tiada Duanya


Sebuah takdir. Itulah karakteristik geografis khas pantai-pantai di Bima-Dompu serta Sumbawa dan Lombok umumnya. Pantainya landai, diapit teluk berarus deras yang membawa serta banyak planton dan dalam pelukan dua samudera nanluas: Atlantik dan Hindia. Karakteristik pantai yang khas tersebut tidak ditemukan di Sumatera, Kalimantan, Jawa, Bali, Papua, Slulawesi kecuali sebagian di Maluku.
Pantai yang landai menjadi sangat ideal untuk budidaya mutiara. Selat Sape, Alas dan Lombok menuntun banyak plankton yang begerak bebas. Pelukan dua samudera makin memperkaya laut sekitar Lombok dengan Sumbawa oleh migrasi ikan dan plankton.
Itu sebabnya mutiara dari pantai-pantai di Bima, Dompu serta Pulau Sumbawa dan Lombok termasuk produk yang terbaik di dunia dilihat dari bulatannya yang sempurna serta kehalusannya. Itu kata Ir. Busrah Hasan, pelaku budidaya mutiara. Tak mengherankan kalau orang Belanda serta Jerman serta beberapa negara Eropa sangat mengagumi mutiara dari kawasan Bumi Gora. Hanya saja promosinya yang lemah. Akibatnya mutiara dari pantai-pantai di Bima dan NTB dilabelisasi daerah lain, dengan pengemasan yang apik. Konon masih ada pedagang mutiara asal NTB yang membawa mutiara dengan kantong plastik.
Para ekspatriat Jepang bahkan secara khusus memburu mutiara NTB termasuk Bima tentunya. Tak sedikit yang mengusahakan langsung budidaya mutiara. Di perusahaan-perusahaan mutiara di daerah ini, bertebaran ahli suntik kerang mutiara asal Jepang. Teknologi dan keahlian menyuntik kerang mutiara umumnya hanya dimiliki para ahli dari Jepang.
Umumnya mutiara dipakai orang kaya untuk perhiasan. Namun seiring perkembangan teknologi, mutiara sangat ideal sebagai pelapis bahan antipanas untuk pesawat angka luar. Lazim juga dipakai  untuk bahan kosmetik, formula cat dan obat-obatan.
Apa sebenarnya benda bulat berwarna putih keperakan dan hitam ini? Mutiara yang dihasilkan oleh kerang mutiara hasil budidaya–atau dari kerang alam yang berkualitas tinggi namun langka-diproduksi dalam jaringan lunak (mantel) dari moluska hidup. Sama seperti kulit moluska, mutiara terdiri dari kalsium karbonat dalam bentuk kristal yang telah disimpan dalam lapisan-lapisan konsentris. Mutiara yang sempurna berbentuk bulat dan halus. Seperti namanya, mutiara merupakan metafora untuk sesuatu yang langka, baik, mengagumkan dan berharga.
Selain mutiara dari tiram di laut, ada pula mutiara tiram air tawar, yang harganya lebih murah. Bahkan tak jarang orang menjual mutiara palsu atau mutiara buatan. *** Muslimin Hamzah

==========================================================

BuyBlogReviews.com
==========================================================

Terbang Bersama Walet


Gua-gua alam Sape terutama di pulau di sekitar Bajo Pulau, kawasan Teluk Sape serta gugusan pegunungan di Parado menjadi rumah ideal walet. Reputasi walet Parado punya sejarah panjang. Di zaman Belanda, wallet di sana menjadi komoditi perdagangan. Ketika istana Bima dibangun di era Sultan Ibrahim oleh arsitek Rehata, hasil penjualan wallet Parado menjadi sumber pembiayaan utama. Kendati Belanda membeli dengan harag di bawah standar namun pemasukan dari sarang wallet cukup besar. Konon orang-orang Parado mengangkut sarang walet dengan menggunakan kuda ke Bima.
Setelah tataniaganya diatur oleh pemda, CH Halifa Bugis di Sape mampu memberi pemasukan untuk pendapatan asli daerah hingga Rp 1,7 miliar. Pemasukan besar itu hanya diperoleh dari  dua gua yang dirawat oleh H. Najib, pemilik Halifa Bugis. Masih lima hingga 10 gua lagi yang menjadi lokasi budiaya alami walet.
Hampir tidak ada input teknologi di dalam goa, rumah walet oleh pengelola. Mereka cukup menambahkan batang-batang bambu atau kayu di atap gua. Walet akan membuat sarang sendiri. Kala panen, dua kali setahun, para pemetik sarang walet menggunakan tangga agar mudah menjangkau sarang walet.  
 

Madu, Menyelamatkan Dunia

Fisikawan Alber Einstein dari Amerika Serikat bilang, “jika lebah musnah dari muka bumi ini, manusia hanya sanggup bertahan selama empat tahun. Tak ada penyerbukan, tak ada tanaman, tak ada binatang lagi, tiada lagi manusia.” 
Kawasan Tambora dianugerahi Allah kekayaan lebah madu yang vital bagi kehidupan. Hutan-hujan tropis Tambora adalah rumah ideal bagi lebah hutan (apis dorsata). Tempat lain di Pulau Sumbawa punya madu tapi tak sehebat madu Tambora. Orang menyebut Madu Bima atau Madu Sumbawa.
Para ahli biologi memastikan tanpa penyerbukan berarti habislah makanan. Kata ahli serangga dari Pusat penelitian (P2) Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia seperti dlansir Kompas (Maret/2011) memang ada beberapa cara lain untuk membantu penyerbukan, tapi lebah tetap yang terbaik. Setiaknya 90% penyerbukan tanaman biji-bijian dibantu lebah.
Madu  Bima, umumnya di kawasan Gunung Tambora (2.851 m). Juga banyak di Desa Piong dan beberapa desa di wilayah Kecamatan Sanggar, 125 km barat laut Raba. Di sekitar gunung yang pernah meletus tahun 1815 itu, terdapat kawasan hutan seluas 122.600 ha, di mana tumbuh pepohonan sebagai sumber nektah madu dan koloni lebah madu berkembang biak.
Di era kesultanan, pengambilan madu dikoordinasikan pihak kerajaan, mengingat Sanggar merupakan salah satu kerajaan di Pulau Sumbawa. Hasil pengambilan madu dari upeti permanen, digunakan untuk menggaji petugas jeneli (kerajaan). Karena faktor sejarah, Kecamatan Sanggar lalu menjadi bagian Kabupaten Bima.
Walhasil seluruh aset yang ada di wilayah Sanggar menjadi tanggung jawab Bima. Atas pengambilan madu, pihak kecamatan mendelegasikan ke desa, berupa retribusi sebagai sumber pemasukan atau anggaran pendapatan pengelolaan keuangan desa. Pungutan itu di antaranya diwujudkan dalam bentuk iuran hasil hutan.
Madu kristal ada di lereng Gunung Tambora  pada ketinggian 900-2000 meter, terkonsentrasi di areal seluas 15.000 ha. Di situ tumbuh taride bura (tumbuhan liar berbunga putih) atau Moschosma Polyctachlyum yang diduga menjadi sebab mengkristalnya madu itu.
Menurut kebiasaan, madu kristal hanya ada saat musim taride bura berbunga, sekitar Juni-Juli saban tanun. Sebulan kemudian madu kristal mulai dipanen.
Anggapan masyarakat tersebut diragukan oleh para peneliti LIPI. Menurut Soenartono Adisoemarto dan Anita Hanna Atmowidjojo kristalisasi madu masih dianggap sebagai misteri.
Kedua peneliti yang menjelajah kawasan Tambora 16 September 1 Oktober 1986 menyatakan, keraguan itu didukung data herbarium, bahwa jenis tumbuhan yang termasuk suku labiatae itu ada di daerah lain seperti pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan dan pulau-pulau lain di NTB dan NTT. Kenyataannya, madu kristal itu tidak ada di pulau-pulau itu, selain di lereng Tambora.
Bicara konsumsi madu, negara  berkembang seperti Indonesia baru mencapai 70 gram per kapita setahun. Berarti, jauh dibawah rata-rata konsumsi di negara industri yang mencapai 1.000 – 1. 600 gram per kapita per tahun.
Madu yang kini dikonsumsi dan dikemas dalam aneka merek di pasaran dalam negeri, kebayakan berwarna merah hasil budidaya manusia. Di Bima, selain madu merah juga terdapat madu putih dari alam. Madu putih ini jika disimpan lama, akan mengkristal, sehingga sering disebut madu kristal. *** Muslimin Hamzah

==========================================================
BuyBlogReviews.com
==========================================================

Membuat Read More Tanpa Menggunakan Script

Iseng mengisi waktu luang dari pada ngayap nggak karuan mendingan posting tulisan pada blog dan mungkin akan sedikit bermanfaat buat teman-teman semua.

Kali ini saya mencoba share tentang bagaimana membuat read more (baca selengkapnya) pada blogspot dengan mudah tanpa harus menggunakan script karena selama ini teman blogger semua tau kalo banyak menggunakan script tentu akan memperlambat loading blog.

Ok, dari pada ngomong ngalor ngidul sebaiknya langsung aja. Berikut langkah-langkah yang bisa dilakukan untuk membuat read more tanpa menggunakan script :

Mete, Primadona Tambora


Musim kering sedang memuncak di bulan April. Namun barisan bukit yang berjejer di atas Kawinda Nae tetap menghijau. Di sana-sini melebat. “Itu mete,” kata satu guru asal Desa Rada seraya menunjuk bukit yang memanjang ke timur sepanjang sisi utara Tambora. Dari sekian kebun hanya sebagian yang berproduksi baik. Rupanya banyak kebun yang kurang mendapat perawatan dari pemiliknya.
Guru SMA I Kawinda itu yakin, jika kebun-kebun itu dirawat, hasil panen mete akan maksimal. Dia menyebut kebun mete subur milik beberapa guru asal Bima di sana. Data Kepet Bima menyebutkan produktivitas tanaman mete di cluster Tambora Utara hanya 0,39 ton  per hektar. Padahal di cluster Tambora Selatan sudah mencapai 0,39 ton per ha.
Kawinda Nae termasuk cluter Tambora Utara dengan luas areal tanam mete 1.964 ha. Produksinya mencapai 459 ton.
Jumlah itu tidak seberapa dibandingkan dengan areal tanam di cluster Tambora Selatan, mencapai 11.511 ha. Produksinya sudah 4.102 ton.

Kalanggo, Tegakannya Terlengkap di Dunia


Kalanggo (duabanga molluccana) merupakan bagian dari tipe ekologi lokal yang  unik, langka dan merupakan tegakan murni yang terlengkap di dunia. Kayu ini sempat dianggap musnah oleh badai awan panas akibat letusan Tambora. Nyatanya dia bertahan dan bangkit dengan tegakan yang lebih subur.    
Setelah letusan, kehidupan baru muncul dengan keanekaragaman hayatinya. Kawasan tersebut menjadi sangat kaya satwa endemik berupa aneka burung, rusa, banteng liar dan ular. Salah satu satwa langka yakni kelelawar yang kondang dengan julukan The Flying Fox.
Menurut penelitian FAO, satu lembaga PBB, kalanggo Tambora merupakan satu-satunya tegakan murni hutan primer di Indonesia bahkan di dunia.
Setelah Tambora dicaplok PT Veneer Product tahun 1972, kawasan itu mengalami proses kehancuran luar biasa.

Miniatur Laut Purba di Satonda


Airnya berwarna kehijauan. Rasa asinnya menyengat, melebihi air laut biasa. Ternyata air tersebut sudah bersemayam dalam tebing gunung Pulau Satonda sejak 3,4 miliar tahun silam. Itu sebabnya para ilmuwan menyimpulkan danau Satonda–di utara Tambora-merupakan model lingkungan kontemporer yang mencerminkan kondisi lautan di zaman purba.
Jejaknya dilacak dari material stromatolit yang mirip karang di danau itu. Konon material tersebut hanya ada pada era prekambrium atau sekitar 3,4 miliar tahun lampau. Peneliti Eropa Stephan Kempe dan J. Kazmierczak yakin kalau danau Satonda merupakan miniatur lautan purba.
Berkembang mitos di masyarakat ikhwal keunikan air danau Satonda. Dahulu kala, raja Tambora hendak melawat ke Sumatera untuk mencari calon istri.