Nikmatnya Kopi Tambora

Malam sudah kian larut. Keriuhan di bar itu tak juga surut. Aroma kopi keluar dari celah-celah dinding kayu banguan. Laki-perempuan bule, tua muda tenggelan dalam pesta akhir pekan. Suara tawa noni-noni Belanda berderai. Itu tandanya suasana dansa dan nyanyi kian hidup. Suhu dingin hingga 15 derajat Celcius pada ketinggain 700 meter di atas permukaan laut itu seperti tak dirasakan pengunjung bar. Tentu saja bir menjadi salah satu minuman favorit untuk menghangatkan badan.
Itu sekelumit pesta “minum kopi” akhir pekan para londo di kaki gunung Tambora era 1930-an. Tempatnya di areal kebun kopi Tambora sekarang.

Tambora, Penakluk Napoleon


Tiga gumpalan api yang terpisah memuncak hingga tinggi sekali, dan seluruh permukaan gunung tampak segera diselimuti oleh lava yang berpijar, yang meluas hingga ke jarak yang sangat jauh, di antaranya sebesar kepala, jatuh dalam cakupan diameter beberapa kilometer, dan pecahan-pecahan yang tersebar di udara telah mengakibatkan kegelapan total. Abu yang dikeluarkan begitu banyak sehingga mengakibatkan kegelapan total di Jawa, yang jaraknya sejauh 310 mil (500 km). Abu ini mengakibatkan kegelapan total saat tengah hari, dan menutupi tanah dan atap  dengan lapisan setebal beberapa sentimeter.”
Demikian catatan harian Sir Stamford Raffles, Gubernur Jenderal Belanda di Jawa tentang letusan Gunung Tambora, April 1815. Letusan itu tiga kali lebih kuat dari bencana Krakatau 1883. Awan panas mencapai suhu 800 derajat Celsius.

Keagungan Puncak Tambora


Puncak Tambora tetap menggetarkan, meskipun puncaknya terpotong saat meletus pada April 1815 sehingga tinggi gunung itu menjadi 4200 meter. Letusan dahsyat tersebut menandai era kelam Bima-Dompu.
Terkadang, jika cuaca cerah, pesawat dari Bandara Salahuddin ke Selaparang melewati Tambora. Tampak tebing batu yang mengelilingi lubang kaldera. Warnanya coklat tua, membuatnya tampak garang.
Siang itu cuaca memang cerah. Langit di puncak Tambora yang terang benderang menampilkan secara detail lubang kaldera. Dari atas sekilas seperti wajan raksasa. Garis tengah lubang di puncak lk 6 km dan dalamnya 600-700 meter. Dengan kaldera seluas itu tergambar jejak kengerian letusan hampir 200 tahu silam.
Dari lobang kaldera itulah dulu dimuntahkan debu, bebatuan hingga lahar panas. Debu memasuki atmosfis dan memanggangnya dengan suhu mencapai 800 derajat Celcius. Bencana pun susul-menyusul di darat dan udara.

Bima dalam Candaan Ncuhi


Di zaman baheula, Bima belum merupakan kesatuan politik yang besar. Ncuhi menjadi pemimpin kesatuan politik kecil yang otonom. Dalam kisah rekaan para orang tua dahulu, ncuhi digambarkan sebagai figur sakti, lucu dan aneh-aneh.
Ketika Gajah Mada mendarat di Teluk Bima dalam misi menaklukkan Dompu, aristokrat Majapahit itu terheran-heran dengan para tetua lokal yang menghadap. Mereka ternyata mewakili komunitas kencuhiannya saja. Dus, tidak ada pemimpin yang mengkordinasikan mereka dalam wadah kesatuan pemerintahan yang besar.

Yang Tersisa Dari Kantor Bupati Bima

Kantor Bupati Bima Kemarin :


Kantor Bupati Bima Hari Ini (26 Januari 2012) :







 

Zahir Is the Best


Fadil Fuad Basymeleh, Pria kelahiran Surabaya 6 Nopember 1971 yang menetap di kota Malang-Jawa Timur ini adalah sosok yang berperan dibalik kesuksesan PT. Zahir Internasional. Ia dikenal sebagai sebagai Chairman perusahaan software terkemuka di Indonesia yang rendah hati.
Cikal bakal lahirnya ZAHIR tidak lepas dari pengalaman pribadinya saat menjalani usaha percatakan di kota Bandung-Jawa Barat yang pada saat itu tidak ada tools berupa software untuk mengevaluasi perusahaannya dengan cepat. Bermodal tekad dan pengalaman buruk tersebut Fadil Fuad Basymeleh menciptakan Zahir Accounting Ver. 1.0 pada tahun 1996 kemudian pada tahun 1997 dikembangkan menjadi ver. 2.0 dan sejak tahun 1999 hingga sekarang mulai dipasarkan.


Zahir Accounting Sebagai Software Akuntansi Laporan Keuangan Terbaik

Beberapa penghargaan pun telah diraih oleh PT Zahir Internasional sebagai bukti keberhasilannya dalam memuaskan konsumen pengguna jasanya terutama dalam menyediakan Software Akuntansi Laporan Keuangan Terbaik.
Reputasi PT Zahir Internasional dalam menyediakan Software Akuntansi Laporan Keuangan Terbaik sudah pasti tidak bisa diragukan lagi. Untuk itu sangat disarankan bagi anda memanfaatkan jasa Software Akuntansi ini untuk keamanan dan kelancaran usaha anda. Bagi anda yang berminat menggunakan jasa Software Akuntansi dan ingin mengetahui lebih detil tentang produk Zahir Accounting, PT Zahir Internasional menyediakan layanan Presentasi produk software akuntansi di tempat Anda. Anda cukup mengisi form permintaan presentasi disini atau melalui Telepon ke 021-7197766. Selanjutnya, Staff akan mendemokan produk software akuntansi ini sesuai kebutuhan Anda.
Demikian, semoga membantu teman-teman yang sedang ikut kontes SEO

Artikel terkait di Blog Sahabat :

Sosok Dibalik Ketenaran Zahir Accounting Software

Merekonstruksi Sambori Sebagai Desa Budaya

Kenapa harus direkonstruksi? Hal itu didasari kondisi kekinian Sambori yang tidak lagi seperti yang kita lihat sepuluh sampai dua puluh tahun lalu. Jika dulu memasuki Sambori mata kita terbuai dengan jejeran Uma Lengge beratap alang-alang, kini pemandangn itu sudah tidak kita temukan lagi. Kecuali  satu unit Uma Lengge beratap Seng yang menurut penduduk Sambori Bawah (Sambori dusun lengge) sudah berumur lebih dari 300 tahun. Itu adalah satu-satunya Uma Lengge yang masih tersisa setelah pada era 2000 an bangunan-bangunan leluhur ini dimusnahkan oleh ketidakpedulian pemimpin daerah yang mengatakan bahwa uma Lengge tidak sesuai dengan standar kesehatan dan sudah bukan zamannya lagi mempertahankan kehidupan purba di zaman modern ini. Padahal, manusia-manusia yang berumur ratusan tahun banyak dilahirkan dan dibesarkan dibawah sejuknya alang-alang uma Lengge.Manusia-manusia “purba itu hidup bersahaja dengan nasi yang dibungkus daun pisang, bukan  dengan plastic sintetis seperti saat ini.
Banyak sejarahwan dan budayawan Bima menjuluki, bahwa Sambori dan Donggo adalah wajah lama Bima. Karena Sambori itu kompleks. Sambori itu kaya dengan berbagai ragam adat dan tradisinya. Setelah beberapa kali mengunjungi dan melakukan penilitian budaya di Sambori- Lambitu, saya berkesimpulan perlu merekonstruksi dan pengkondisian kembali Budaya Sambori dalam rangka mendukung rencana pengembangan Sambori sebagai Desa Budaya NTB.
  1. Pakaian adat Sambori yang sudah tidak diketahui lagi oleh warganya sendiri, karena dalam catatan saya pakaian Sambori tidak sama dengan pakaian adat Mbojo pada umumnya. Contohnya, RIMPU itu bukanlah pakaian Adat Sambori. Oleh karena itu, perlu diupayakan pengadaan Pakaian dan aksesories Pakaian Adat Sambori
  2. Kerajianan Tradisional Sambori seperti (Waku) Lupe, Wonca, Doku, Saduku,Kula, Kaleru, Kula Baku, Tare, Tikar, Sarau, Sadopa dan lain-lain adalah daya tarik yang sangat unik bagi wisatawan. Untuk itu perlu dibentuk kelompok-kelompok usaha kerajinan dan perlu bantuan permodalan untuk terus melestarikan kreasi kerajinan ini. Kerajinan dan kreasi masyarakat Sambori bisa menjadi Souvenir bagi wisatawan yang berkunjung yang menyatu dengan bisaya masuk (Entrance Fee) yang ditetapkan setiap memasuki areal kampong Adat. Hal ini sekaligus sebagai bentuk pemberdayaan masyarakat  Sambori.
  3. Pohon Pandan sebagai bahan baku utama seluruh kerajinan Masyarakat Sambori saat ini sudah semakin berkurang, perlu upaya pembibitan dan penanaman kembali pohon pandan di sekitar desa Sambori.
  4. Model satu unit Uma Lengge yang direkonstruksi saat ini sesungguhnya tidak sama dengan prototipe Uma Lengge yang dulu, untuk itu perlu kiranya dipikirkan pembangunan Uma Lengge oleh Generasi Sambori sendiri. Konstruksi yang menjadi model saat ini hampir mirip dengan Beruga di Lombok dan Salaja kalau di Bima-Dompu. Karena sesuai tradisi pembangunan Uma Lengge diperlukan 14  jenis kayu yang ada di sekitar Sambori dan 3 jenis Tali temali yang bahannya ada di sekitar Sambori juga.
  5. Areal yang telah dialokasikan untuk rencana pembangunan 15 Unit Uma Lengge perlu dipikirikan kembali karena terlalu sempit dan sulit untuk dikondisikan jika ada keinginan untuk menghidupkan kembali tradisi dan kerajinan masyarakat Sambori di areal tersebut. Karena dalam satu kompleks kampung adat perlu dipikirkan tata lingkungan secara tradisional, warga yang dipilih untuk bermukim beserta aktifitas dan tradisinya, serta satu areal yang dialokasikan untuk pementasan kesenian di tengah-tengah kampung adat itu. Alternatif tempat (areal) yang represntatif adalah di ujung  timur dusun Lambitu Sambori (Sebelum turunan menuju dusun Lengge = Sambori Bawah).
  6. Tarian dan kesenian Sambori seperti Kalero, Bela Leha, Arugele, Mpa’a Lanca (Adu Betis) dan Mpa’a Manca perlu dilestarikan dan diwadahi dalam satu Sanggar Seni Budaya Sambori.
  7. Untuk menghimpun kembali bahasa Sambori dan Tarlawi agar tidak punah dan ditinggalkan oleh masyarakat pendukungnya perlu disusun satu Kamus khusus Bahasa Sambori dan Tarlawi. Penyusunan kamus ini juga diperlukan bukan saja untuk pelestarian Bahasa Sambori, tetapi diperlukan untuk penelitian-penelitian linguistic lainnya.
  8. Untuk menghimpun pandangan, ide dan gagasan dari tokoh Sambori, Pemerintah setempat, dan stakeholder terkait Lambitu dan pengembangan Desa Adat Sambori, perlu diadakan sebuah seminar dengan Tajuk “MEREKONSTRUKSI SAMBORI SEBAGAI DESA ADAT
* Sumber : Alan Malingi

Kerajinan Dan Kreasi Masyarakat Sambori


Pada umumnya Kerajinan tradisional adalah proses pembuatan atau pengadaan peralatan dan perlengkapan hidup mencakup pakaian, perumahan, alat-alat rumah tangga, senjata, alat-alat produksi, alat-alat transportasi dan lain sebagainya. Proses pembuatannya harus berpedoman pada nilai dan norma budaya, sebab semua perlengkapan hidup yang dibuat merupakan salah satu unsur budaya.
Ketrampilan yang dimiliki oleh para pengrajin diperoleh dari warisan leluhur tanpa melalui pendidikan formal. Bermodalkan ketrampilan yang dimiliki, mereka mampu membuat berbagai jenis barang walau dengan peralatan yang sederhana. Bahan baku yang dibutuhkan, mudah diperoleh disekitar lingkungannya, antara lain Tumbuh-tumbuhan, Logam, Batu-batuan, tulang dan Kulit hewan dan sebagainya.
Kerajinan tradisional Sambori kaya dengan jenis dan bentuknya. Bukan hanya tahan lama dan kuat, tetapi juga mengandung nilai seni budaya yang tinggi. Karena itu kerajinan tradisonal Sambori harus dilestarikan oleh Pemerintah dan Masyarakat. Kalau usaha pelestarian dan pengembangan itu tidak segera dilaksanakan secara sungguh-sungguh, maka dikhawatirkan dalam waktu yang tidak lama kerajinan tradisional Sambori akan dilupakan oleh masyarakat pemiliknya.
Hampir 80 porsen kerajinan Sambori menggunakan Daun lontar, baik lontar yang berdaun lebar maupun  berdaun kecil. Karena pohon lontar banyak ditemukan tumbuh secara liar di sekitar Sambori dan sekitarnya. Leluhur orang Sambori memang cukup arif melihat peluang di pelupuk mata. Pohon pandan terus dikembangkan untuk menunjang proses kreatifitas kerajinan warga sambori dari masa ke masa.
Ada lebih dari 10 jenis kerajinan anyaman yang dihasilkan dari tangan dingin perempuan-perempuan Sambori. Kerajinan itu yaitu, Waku (Lupe), sejenis payung tradisional Sambori, Saduku, Kula, Kula Baku,Kaleru, Tare(Nampan), Dipi (Tikar), Wonca, Doku, Sarau dan Sadopa.
   
1.    Waku (Lupe) Payung Tradisional Sambori

Orang-orang Sambori menyebut Waku. Tapi orang-orang di Bima menyebutnya Lupe.  Waku berbentuk lonjong, menutupi kepala dan badan yang berfungsi sebagai topi/payung sekaligus Jas Hujan. Yah, bisa dikatakan bahwa Waku adalah Jas Hujan Tradisional masyarakat Mbojo tempo dulu terutama di wilayah Donggo Ele yang meliputi Kuta, Teta, Sambori, dan  Kaboro. Daun pandan gunung, berdaun lebar lagi panjang, seratnya kuat tidak mudah robek. Waku sangat cocok bagi petani peternak atau pengembala yang sedang bekerja di sawah ladang dan padang nan luas.
Untuk membuat Waku dibutuhkan 8 helai daun pandan berdaun lebar dengan ukuran panjang 2,5 sampai 3 meter. Untuk mengeratkan sambungan tiap helai daun pandan diikit dengan tali dari ijuk (Lidi). Cara membuat Waku tidaklah terlalu sulit bagi masyarakat Sambori. Daun Pandan yang telah diambil dari pohonnya dikeringkan lebih dulu, kemudian dianyam. Cara menganyamnya yaitu dengan menyilang daun pandan yang satu dengan daun pandan yang lainnya dan hampir sama dengan mengayanyam Tikar Pandan atau Dipi Fanda. Yang membedakakanya adalah finishing dari Waku yang menyerupai Topi atau payung. Dibutuhkan waktu satu hari untuk menganyam Waku sampai menghasilkan anyaman Waku yang siap untuk dikenakan terutama untuk melindungi diri dari hujan dan terik matahari.
Waku sangat unik. Ini adalah sebuah warisan leluhur masyarakat Sambori yang perlu dilestarikan keberadaanya. Waku dan komoditi lainnya dari desa ini sangat berpotensi sebagai salah satu souvenir atau oleh-oleh buat wisatawan yang berkunjung. Hal ini tentunya akan menggairahkan para pengrajin di wilayah ini untuk memproduksi Waku (Lupe) dan kerajinan ketrampilan lainnya untuk menopang perekonomian mereka.

2.    Saduku
 
Orang-orang Bima menyebutnya Sanduru. Saduku adalah tempat/wadah untuk menyimpan nasi. Ketika orang-orang Sambori ke kebun atau ke ladang mereka selalu membawa makanan dengan Saduku. Ukuran Saduku juga bermacam-macam, ada yang kecil dan ada juga yang besar. Saduku kecil dengan ukuran tinggi 25 cm dan lebar 20 cm digunakan untuk menyimpan nasi untuk ukuran satu sampai dua orang. Sedangkan yang besar dugunakan untuk kebutuhan lebih dari lima orang. Pengalaman warga Sambori, menyimpan nasi dengan Saduku bisa bertahan sampai 3 hari dan tidak basi.
Bahan dasar pembuatan Saduku adalah daun lontar yang dibelah kecil-kecil. Proses pembuatannya melalui perendaman sekitar 2 jam kemudian dijemur. Lalu pada sore hari hingga malam hari kaum perempuan menganyam saduku secara bersama-sama. Dalam satu hari, warga Sambori mampu menghasilkan 3 sampai 5 Saduku, jika tidak ada kesibukan lain seperti menanam atau bekerja di sawah.
Menurut pengalaman orang-orang Sambori, Saduku yang kuat dan tahan lama sadalah Saduku yang dianyam dari serat Laju. Laju  adalah pohon jenis palma, tetapi pohonnya tidak tinggi seperti Fu’u Ta’a (Pohon Lontar) dan Ni’u (Nyiur). Pohon ini banyak terdapat di lahan-lahan kering dan dataran tinggi sekitar Sambori. Daunnya berserat dan kuat tidak mudah putus atau terpotong. Dari Ro’o Laju dibuat dua jenis wadah untuk menyimpan kacang hijau, kadele atau jagung dan beras. Bentuknya bulat panjang seperti kantung, dengan ukuran 25 kilogram. Berdasarkan ukurannya, jenis wadah Dari Ro’o Laju terdiri dari dua jenis, yaitu yang besar bernama Balase dan yang kecil disebut Saduku/ Sanduru.

3.    Kula

Kula adalah Wadah untuk menyimpan berbagai jenis barang kebutuhan sehari-hari. Fungsinya bermacam-macam. Ada  Kula Lo’i (Kula Obat) Kula tempat menyimpan segala jenis ramuan obat tradisional, pada umunya berbentuk segi empat yang dibagi dalam beberapa kotak kecil. Kula Mama Kula untuk menyimpan sirih, pinang dan kapur sirih. Dan Kula Bongi (Kula Beras), Kula untuk menyimpan beras
Bentuknya bersegi empat dengan ukuran 15 sampai 20 cm. Bahan utama pembuatan Kula adalah daun lontar yang dibelah kecil-kecil. Setiap rumah orang Sambori wajib memiliki Kula. Biasanya Kula disimpan di ruang keluarga untuk menerima tamu. Proses pembuatannya juga sama dengan saduku, dikerjakan secara bersama-sama oleh para gadis dan kaum perempuan Sambori. Dalam sehari mereka mampu menghasilkan lebih dari lima buah Kula. 

4.    Kula Baku

Hampir sama dengan Kula, hanya saja ukuran Kula Baku lebih kecil daripada Kula. Hasil anyaman ini berfungsi untuk menyimpan Sirih maupun rempah-rempah seperti kunyit, jahe, bawang putih, dan lain-lain. Bahan utama pembuatan Kula Baku juga adalah daun lontar yang dibelah kecil-kecil. Setiap rumah orang Sambori wajib memiliki Kula. Bersama Kula, Kula Baku juga  disimpan di ruang keluarga untuk menerima tamu. Proses pembuatannya juga sama dengan Kula dan Saduku, dikerjakan secara bersama-sama oleh para gadis dan kaum perempuan Sambori. Dalam sehari mereka mampu menghasilkan lebih dari lima buah Kula Baku. 

5.    Kaleru

Hampir sama dengan anyaman lainnya, Kaleru juga berfungsi untuk menyimpan Sirih maupun rempah-rempah seperti kunyit, jahe, bawang putih, dan lain-lain. Bahan utama pembuatan Kaleru juga adalah daun lontar yang dibelah kecil-kecil. Setiap rumah orang Sambori wajib memiliki Kaleru. Bersama Kula, Kula Baku juga  disimpan di ruang keluarga untuk menerima tamu. Proses pembuatannya juga sama dengan Kula dan Saduku, dikerjakan secara bersama-sama oleh para gadis dan kaum perempuan Sambori. Dalam sehari mereka mampu menghasilkan lebih dari lima buah Kaleru. 

6.    Dipi Fanda (Tikar Pandan)

Dipi berarti tikar. Sedangkan Fanda adalah pandan. Jadi Dipi Fanda adalah tikar pandan. Membuat tikar pandan adalah tradisi turun temurun masyarakat Sambori. Seorang anak perempuan harus memiliki keahlian dalam menganyam tikar pandan. Hampir setiap rumah di Sambori, selalu ditemui orang-orang yang menganyam tikar. Anyaman tikar pandan sebagian besar digunakan untuk kebutuhan rumah tangga, pamaco (sumbangan untuk hajatan keluarga), dan selebihnya untuk dipasarkan keluar Sambori.
Proses membuat tikar pandan, dimulai dengan pengambilan daun pandan yang berduri. Kemudian, daun dipotong dengan alat penjangat. Lalu, daun direbus dengan air hujan atau air sungai agar warna pandan berganti menjadi putih. Setelah direbus, daun dijemur agar daun benar-benar kering. Setelah kering, daun pandan diluruskan agar pengerjaan pada saat menganyam mudah dilakukan. Dalam satu  minggu, perempuan Sambori bisa mengerjakan tikar pandan sebanyak 4 buah. Pekerjaan ini harus benar-benar yang sudah ahli. Untuk mendapatkan ukuran tikar yang besar, harus pandai menyambungnya.

7.    Wonca (Bakul) Dan Doku (Nyiru)

Wonca (Bakul)
Disamping kerajinan dari daun lontar, masyarakat Sambori juga menekuni kerajinan dari bambu dan rotan seperti Wonca atau bakul dan  Doku (Nyiru). Namun proses pembuatan kerajinan anyaman ini  tidaklah seramai dan sebanyak warga yang melakoni anyaman dari daun pandan atau lontar.
Doku (Nyiru)
Doku adalah wadah untuk menapis dan membersihkan beras dan kulit gabah atau kerikil yang bercampur dengan biji gabah. Beras yang sudah ditapis atau disaring dengan Doku di masukkan dalam wadah yang bernama Wonca (bakul). Ukuran Wonca bermacam-macam, ada yang besar, sedang dan ada yang berukuran kecil.
Selain sebagai wadah untuk menyimpan gabah dan beras, Doku dan Wonca juga menjadi wadah untuk menyimpan berbagai jenis bahan pangan lainnya, seperti kacang kedelai, kacang hijau , jagung dan lain-lain.

8.     Sarau (Camping)

Sarau adalah topi tradisional Mbojo yang dianyam dari bahan baku bambu. Sarau dapat dipakai oleh kaum laki-laki dan kaum perempuan, bila mereka pergi ke sawah ladang, ke gunung , ke tegalan dan kebun. Bukan hanya untuk melindungi dari kehujanan tetapi juga untuk melindungi diri dari panas terik matahari.
Para pengrajin yang memiliki ketrampilan dalam menganyam tersebar di beberapa desa. Desa-desa yang sampai sekarang masih aktif memproduksi sarau antara lain Desa Ntori, Maria dan Desa-desa lain di Kecamatan Wawo Kabupaten Bima, Desa Lela Mase dan Nungga di Kecamatan Rasanae Timur Kota Bima, dan beberapa desa di Kecamatan Sape Kabupaten Bima.

9.    Tare (Nampan) Dari Rotan

Masyarakat Sambori juga kreatif membuat Tare (Nampan) dari rotan dan Bambu. Kreatifitas ini dilakukan untuk kepentingan upacara dan menghadiri undangan Jambuta (hajatan) keluarga baik yang ada di Sambori maupun di luar Sambori. Biasanya Tare-tare ini dibawa oleh kaum perempuan untuk menyimpan perangkat sirih pinang dan makanan “Teka Ra Ne’e(Sumbangan untuk keluarga dan kerabat yang berhajat berupa beras, sayur dan buah-buahan serta bahan makanan lainnya.  

10. Sadopa (Sandal Tradisional Sambori)

Tangan-tangan terampil orang Sambori tidak hanya menyentuh anyaman, tapi masalah alas kakipun tak luput menjadi perhatian. Sadopa adalah sandal tradisional yang telah dibuat masyarakat Sambori sejak berabad-abad lamanya. Bahan Dasarnya adalah Kayu hutan yang kuat dan tahan lama seperti kayu Sopa, Kayu Impi dan ada juga dari kayu Nangka. 
Cara membuat Sadopa adalah dengan memotong kayu-kayu tersebut dan dibentuk menyerupai sandal sesuai ukuran kaki pemakainya. Hanya saja perbedaannya dengan sandal, Sadopa hanya mempunyai Tangkai di depan yang berfungsi untuk memasukan celah antara Jari dengan ibu jari kaki. Setiap Rumah di Sambori memiliki Sadopa yang perlu terus dilestarikan untuk menjadi souvenir bagi wisatawan.

11. Peralatan Dapur

Hampir seluruh peralatan Dapur masyarakat Sambori dibuat dengan cara tradisional dan secara utuh diambil dari alam. Beberapa peralatan dapur itu adalah Tungku perapian yang berasal dari batu-batu gunung dan batu kali, piring nasi (Kale’a) dari potongan buah labu (Bima= Wila), sendok makan dari batok kelapa, serta tempat air dari labu (wila).
Cara pembuatan alat perkakas itu cukup sederhana yaitu dengan membentuk batok Kelapa misalnya untuk menjadi sendok dan piring nasi. Demikian juga perkakas lainnya. Alat-alat ini cukup kuat, tahan lama dan tidak mudah pecah. Disamping itu, menyimpan air dengan wadah dari labu sangat baik untuk menjaga kejernihan air dan tetap segar jika diminum di teriknya mentara saat di sawah/ ladang.   

12. Tenunan Sambori

Tenunan Tradisional Bima–Dompu khususnya Sambori jika dicermati secara seksama, di dalamnya mengandung nilai-nilai yang pada gilirannya dapat dijadikan sebagai acuan dalam kehidupan sehari-hari bagi masyarakat pendukungnya. Nilai-nilai itu antara lain: kesakralan, keindahan (seni), ketekunan, ketelitian, dan kesabaran.  Di Sambori, menenun merupakan seni kerajinan tangan turun-temurun yang diajarkan kepada anak cucu demi kelestarian seni tenun tersebut. Motif tenunan yang dipakai seseorang akan dikenal atau sebagai ciri khas dari daerah mana orang itu berasal, setiap orang akan senang dan bangga mengenakan tenunan asal daerahnya.
Dalam masyarakat tradisional Sambori, tenunan sangat bernilai dipandang dari nilai simbolis yang terkandung didalamnya, termasuk arti dari ragam hias yang ada karena ragam hias tertentu yang terdapat pada tenunan memiliki nilai spiritual dan mistik menurut adat. Sedangkan, nilai ketekunan, ketelitian, dan kesabaran tercermin dari proses pembuatannya yang memerlukan ketekunan, ketelitian, dan kesabaran. Tanpa nilai-nilai tersebut tidak mungkin akan terwujud sebuah tenun songket yang bagus. Pada umumnya, ragam hias dan warna pada tenunan Sambori adalah warna hitam dan kotak-kotak/garis putih kecil-kecil. Pada masa lalu, perempuan Sambori memproduksi Sarung, kadang juga Sambolo (Destar) dan Weri (Ikat Pinggang).

==========================================================
BuyBlogReviews.com
==========================================================