Free Download Game Counter Strike Source Full Version


Counter-Strike: Source yang disingkat CS: S adalah sebuah game FPS yang dikembangkan oleh Valve Corporation. Game ini adalah remake lengkap Counter-Strike dengan menggunakan mesin permainan Source. Dalam game Counter-Strike: Source setiap putaran dimenangkan baik dengan menyelesaikan tujuan seperti meledakkan bom serta menyelamatkan sandera atau dengan menghilangkan semua anggota tim lawan.







adapun standar minimal untuk menjalankan game Counter-Strike: Source adalah sebagai berikut :
  1. Processor 1.7 GHz (direkomendasikan prosesor 3.0 Ghz)
  2. Memory 512MB (direkomendasikan 1GB)
  3. Video Card DirectX 8.1 (direkomendasikan DirectX 9)
  4. Koneksi Internet (untuk permainan online)

Recovery Windows OS di Acer Aspire One dan Toshiba L645

Toshiba L645
Pada awalnya saya agak bingung kenapa space harddisk laptop saya bisa kurang hampir 10Gb. Beruntung ada mbah google yang bersedia membantu menyelesaikan masalah saya. Ternyata dalam laptop tersebut sudah tertanam OS Windows berlicense. Bagi sobat yang memiliki laptop yang memiliki license Windows biasanya didalam harddisk laptop tersebut sudah tertanam System Windows Recovery. Dimana System Windows Recovery tersebut akan kita gunakan pada saat windows bermasalah. Penggunaan System Windows Recovery sama halnya dengan mengembalikan kondisi laptop seperti pada saat sobat pertama kali membeli laptop tersebut.

Bagi Sobat yang belum tahu bagaimana cara merecovery OS windows dari Acer Aspire One dan Toshiba L645, silakan ikuti petunjut berikut ini :

Acer Aspire One
Acer Aspire One
  1. Hidupkan laptop.
  2. Tekan 2 tombol Alt + F10 secara bersamaan dan ditahan beberapa detik sampai proses loading recovery muncul
  3. Setelah itu ada Opsi-opsi tambahan yang perlu anda pilih agar sesuai dengan kebutuhan anda, diantaranya adalah apakah anda ingin membackup data dulu ataukah langsung memformat ulang dan menginstal ulang windows

Toshiba L645

  1. Dalam kondisi Laptop Off tekan tombol 0 (nol) kemudian tombol Power laptop (pada saat tombol power ditekan tombol 0 (nol) juga tetap ditekan)
  2. Selanjutnya tunggu beberapa saat sampai proses loading recovery muncul
  3. Dan setelah itu akan muncul beberapa opsi yang perlu anda pilih agar sesuai dengan kebutuhan anda, diantaranya adalah apakah anda ingin membackup data dulu ataukah langsung memformat ulang dan menginstal ulang windows
Demikian semoga bermanfaat....


==========================================================
BuyBlogReviews.com
==========================================================

Prosesi Pernikahan Dou Mbojo (Bag. Keempat)

11. Membuka Tabir

Penganten pria bersama sara hukum didampingi ompu tua (Orang Yang Dituakan) dan ompu panati akan melaksnakan satu upacara adat yang dilaksanakan setelah upacara lafa yaitu Hengga Dindi dan Hengga Kelambu. Secara harfiah “hengga dindi” berari “buka tabir”, atau hengga kalambu berarti “buka kelambu”
Sesudah melaksanakan lafa, penganten laki – laki akan mengikuti upacara hengga dindi. Didampingi oleh ompu panati bersama lebe, galara dan keluarga menuju kamar “Bunti Siwe” (penganten putri).Sebelum masuk kekamar bunti siwe, bunti mone (penganten laki – laki) bersama pendamping berdiri di luar “dinding satampa” (tabir pemisah). Di bagian dalam dindi satampa ada Ina ruka (inang pengasuh) bersama istri lebe, istri galara dan tokoh adat perempuan.
Upacara di mulai oleh pihak bunti mone diwakili oleh ompu panati. Diawali dengan shalawat dan salam, ompu panati penyampaikan untaian kalimat sebagai barikut :
“di bae kai ade ndai doho kasomu ina ruka ro wa’I galara ro wa’I lebe ma dese ro ntasae. Mai ndiha ro nggari kai ndai doho kaso, labo sara ro huku, labo samena cina ro angi ake, ede ru mamai dende ro wa’a ku ana mone ndai ta bunti mone, di ma ngge’e sama ade sabua uma ro salaja labo ana ndaita bunti siwe”(untuk diketahui oleh Inang Pengasuh dan ibu-ibu. Kami datang bersama Gelarang, Lebai dan tokoh masyarakat ini untuk mengantarkan Pengantin Pria ini untuk hidup bersama dengan pengantin wanita.)

Jawaban Ina Ruka :

“Bunesi ntika samena na eli ede ndai doho kasomu de ompu panati, wa’uja ra ringa mena ba ndai mantau ana bunti siwe. Samena ra dodo ro raho ba ndai doho ma tarima na kai ade ma raso lanta bune wolo ma bou ra mbenti.  Pala adendede kainade ndai doho kaso ma ne’e ja ku bae kai ade, tenggo ro wale ra tiwi ro wa’a ba anaku bunti mone. Di kabua kaina uma ro salaja ade mori ro woko kaina labo weira anana pede”.(Apa yang disampaikan oleh Ompu Panati sebenarnya sudah kami ketahui bersama. Semuanya kami terima dengan hati yang ikhlas seputih kapas. Tapi kami juga perlu menanyakan kesanggupan penganten pria untuk mengurus rumah tangga dan anak keturunannya kelak.)
Setelah dialog berlangsung dalam suasana kekeluargaan, akhirnya apa yang diminta oleh Ina Ruka dikabulkan oleh ompu panati. Dengan sikap sopan ompu panati bertutur “sujud syukurku di ndai ruma ra hartala, mencewi kasi ade di samenana adana, samenana ra mawa ro kanteaba ndai doho kasomu, sapoda kaina wa’ura wara tiwi ro wa’a ba ndai doho kaso”. (Puji syukur kehadirat Allah SWT, semua yang minta oleh ibu-ibu sesungguhnya sudah kami penuhi dan kami bawa saat ini)

Kemudian dijawab oleh Ina Ruka:

“Roi ro wadi ku ruma ra hartala  mancewi taho parange, wa’u ra ringa ba ndai doho kaso eli ndai doho kasomu, ba one ndedena dodoku pahuna.”(Sukur Alhamdulillah, karena apa yang kami minta sudah dikabulkan, untuk itu kami mohon wujudnya.)

Ompu panati :
“Syukur ra di Ruma ra harttala mancewi kasi ade di samenana adana. Tarima kai ade ma raso, samenana tenggo ro wale ra tiwi ra wa’a ba ndai doho kaso” (Syukur Alhamdulillah, inilah wujud dari apa yang diminta ibu-ibu)

Sambil melemparkan beberapa keping uang perak kedalam tabir. Setelah lemparan ketiga, akhirnya ina ruka membuka dindi satampa (Tabir pembatas). Dengan mempersembahkan puji syukur kepada Allah SWT, disusul dengan bacaan basmallah, akhirnya bunti mone bersama gelara dan lebe didampingi ompu panati dan keluarga memasuki kamar bunti siwe.
Sesudah berada di dalam kamar, bunti mone melaksanakan shalat sunat dua rakaat untuk memohon kehadapan Allah AWT, agar mahligai rumah tangga selalu mendapat rahmat dan hidayah-Nya.

12. Persembahan Kesetiaan

Shalat sunat dua rakaat sudah selesai diakhiri dengan do’a kepada Allah SWT semoga kedua penganten mendapatkan rahmat dan dijauhkan dari bala bencana.
Kini tiba saatnya bunti mone untuk melangkah mendekati bunti siwe guna  melaksanakan upacara nenggu, yaitu mempersembahkan jungge ke sanggul sang bunti siwe tercinta. Upacara ini kadang – kadang disebut upacara cepe jenggu.
Bunti mone mengawali upacara dengan mempersembahkan sekuntum jungge kala( Sanggul Merah) sebagai isyarat bahwa bunti mone seorang gagah berani, namun jungge kala lambang keberanian dibantik oleh bunti siwe.
Kini bunti mone mempersembahkan jungge monca (Sanggul Kuning) kepada sang istri tercinta bunti siwe. Namun apa hendak dikata, jungge monca lambang kejayaan juga ditolak oleh bunti siwe. Bunti mone tidak putus asa, ditangan masih ada sekuntum jungge bura (Sanggul Putih) sebagai lambang keikhlasan hati dalam membina mahligai rumah tangga. Penyerahan jungge bura (Sanggul Putih) disambut gembira oleh bunti siwe. Jungge bura sebagai simbul keikhlasan lebih utama dari sekuntum bunga merah dan kuning.
Karena keberanian tanpa keikhlasan akan menimbulkan petaka bagi keluarga. Kejayaan diraih dengan hasat dengki tidak akan berguna. Semua perjuangan tanpa kesucian akan sia – sia.
Upacara hengga dindi diikuti upacara nenggu, sudah selesai. Rangkaian upacara adat yang penuh makna,bahwa untuk mewujudkan kehidupan bahagia  sejahtera tidaklah mudah. Banyak tantangan yang malang melintang. Semuanya dapat diatasi bila kesucian hati menjadi landasan perjuangan.

Prosesi Pernikahan Dou Mbojo (Bag. Ketiga)

5. Mbolo Ro Dampa

Bila ngge’e nuru telah berjalan mulus, maka orang tua dan keluarga dua belah pihak akan mengadakan "Mbolo ro dampa” (musyawarah) untuk menentukan hari dan bulan yang baik untuk pelaksanaan nikah. Jumlah atau besar kecilnya mahar serta persyaratan lainnya semua diputuskan dalam mbolo ra dampa.

Mada rawi (upacara inti) dilaksanakan melalui tahapan sebagai berikut :
a.    Tampu’u rawi (tahapan awal)
Dalam tahapan dilaksanakan berbagai upacara, seperti :
Mbolo ro Dampa : pada proses ini keluarga kedua belah pihak bersama pimpinan sara huku (sarah hukum) mengadakan mbolo ro dampa untuk memutuskan:
  • Jumlah masa nikah (emas nikah) atau co’I (mahar) dan kelengkapan lain.
  • Menentukan hari dan bulan yang baik bagi pelaksanaan nika (nikah)
  • Memilih “perenta” (penanggung jawab) yang akan “menenti  rawi” (bertanggung jawab) dalam pelaksanaan upacara nika.

6.    Upacara Nggempe (pingitan)

Setelah hari pernikahan diputuskan bersama, maka calon penganten putri harus melakukan ketentuan adat yang disebut “nggempe”. Pada tahapan ini calon penganten perempuan tidak leluasa lagi meninggalkan rumah untuk bergaul dengan teman – teman sebaya. Ia harus berada di pamoka (loteng) didampingi oleh seorang tokoh adat perempuan sebagai “Ina ruka” (inang pengasuh) bertugas untuk membimbing dan menasehati calon penganten. Selama nggempe calon penganten akan ditemani oleh beberapa teman gadis sehingga tidak merasa kesepian.
Upacara adat nggempe bukanlah perbuatan yang merampas kebebasan kaum perempuan dan tidak menghalangi emansipasi perempuan. Upacara adat ini mengandung nilai yang berguna bagi calon penganten putri, yaitu sebagai berikut:
  • Merupakan masa persiapan bagi calon penganten untuk membiasakan diri berada di lingkungan rumah tangga.
  • Masa untuk meningkatkan kemampuan sebagai ibu rumah tangga dibawah bimbingan Ina Ruka.
  • Masa untuk meningkatkan keimanan dan ketaqwaan di bawah bimbingan Ina Ruka.
  • Pada tahapan fu’u rawi akan dilaksakan berbagai jenis kegiatan sebagai berikut :

7. Wa’a Masa Nika atau Wa’a Co’i(Antar Mahar)

Sesuai dengan keputusan Mbolo ro dampa, maka beberapa hari menjelang lafa (akad nikah), akan dilangsungkan upacara wa’a masa nika (pengantaran emas nikah) atau wa’a co’I (pengantaran mahar).
Upacara dilaksakan sore hari sesudah sholat ashar, diikuti oleh keluarga, ompu panati,  ulama, tokoh adat dan para kerabat. Para peserta akan berangkat dari rumah orang tua penganten laki – laki, berbusana adat yang sesuai dengan status sosial masing – masing.
Rombongan pengantar mahar (dende wa’a co’i) akan dimeriahkan dengan atrasi kesenian Jiki Hadra (jikir hadrah) diiringi musik Arubana (rebana). Setibanya di rumah calon penganten putri akan disambut dengan tarian wura bongi monca (tari menabur beras kuning) dan atrasi mpa’a sila, gantao dan buja kadanda.

8. Kalondo Dou Di Wei (Pengantaran Calon Istri)

Sajama’ah (sejum’at atau sepekan) kadang–kadang sawura (sebulan) sesudah wa’a masa nika, akan dilaksakan upacara “kalondo dou di wei”atau yang bisa juga disebut “Kalondo Wei”.
upacara kalondo dou di wei adalah upacara pengantaran calon penganten putri dari rumah orang tuanya menuju uma ruka (rumah untuk penganten). Dilaksakan pada bulan purnama sesuai sholat Isya.
Calon penganten putri diturunkan (kalondo) dari atas rumah orang tuanya dan diusung ke uma ruka (rumah penganten). Diantar oleh sanak keluarga dan kerabat dengan berbusana adat yang beraneka ragam sesuai dengan status sosial dan usia pemakai. Dimeriahkan dengan atrasi jiki hadra (jikir hadra) diiringi musik rebana.
Pada waktu yang bersamaan di uma ruka sedang berlangsung “Ngaji kapanca” (tadarusan pada upacara kapanca). Ngaji kapanca akan berakhir bersamaan dengan setibanya rombongan calon penganten putri di uma ruka.
Setibanya di uma ruka, rombongan penganten disambut dengan tari wura bongi monca dan dimeriahkan dengan atraksi mpa’a sila, gantao dan buja kadanda.

9. Upacara Kapanca (Penempelan Inai)

Setelah calon penganten putri bersama rombongan tiba di Uma Ruka, maka akan dilanjutkan dengan upacara kapanca (penempelan inai). Upacara kapanca atau penenpelan inai di atas telapak tangan calon penganten putri dilakukan oleh para tokoh adat perempuan. Dilakukan secara bergilir diiringi dengan lantunan jiki kapanca (jikir kapanca) tanpa iringan musik. Syair jikir berisi pujian atas kebesaran dan kemuuliaan Allah dan Rasul.
Tujuan yang terkandung dalam upacara kapanca adalah sebagai peringatan bagi calon penganten putri bahwa dalam waktu yang tidak lama, ia akan menjadi ibu rumah tangga yang akan mengemban tugas mulia dan berat. Telapak tangan yang selama ini halus mulus, akan bercucuran keringat dan darah.
Setelah upacara kapanca berakhir, maka akan dilanjutkan atrasi kesenian jiki hadra. Dihalaman rumah akan diramaikan oleh atraksi permainan rakyat seperti Mpa’a sila, Gantao dan Buja Kadanda. Selain itu  ditampilkan pula permainan rakyat yang bernama “Lanca” yaitu adu kekuatan betis dikalangan kaum laki – laki.
Pada malam itu calon penganten laki – laki tidak boleh berada diatas uma ruka. Dia hanya boleh berada dihalaman rumah bersama para anggota keluarga. Larangan itu sesuai dengan ketentuan adat.

10. Lafa (Akad Nikah)

Keesokan hari setelah upacara kapanca berlangsung, maka akan dilangsungkan acara inti yaitu Lafa (akad nikah). Akad nikah merupakan acara kunci dalam pernikahan. Pada intinya akad nikah adalah upacara keagamaan untuk pernikahan antara dua insan manusia. Melalui akad nikah, maka hubungan antara dua insan yang saling bersepakat untuk berumah tangga diresmikan di hadapan manusia dan Tuhan.
Akad nikah umumnya dilakukan pada tempat-tempat sebagai berikut:
  • Dalam ruangan masjid (dengan resiko mempelai wanita tidak diperbolehkan mengikuti prosesi acara ini jika sedang mengalami haid)
  • Di rumah mempelai wanita (lebih disukai)
  • Di rumah mempelai pria (jika kediaman mempelai wanita dirasa kurang pas)
Menurut agama Islam, rukun nikah ada 5 poin, yakni:

1.    Calon mempelai pria
2.    Calon mempelai wanita
3.    Wali mempelai wanita
4.    Saksi, minimal 2 orang
5.    Ijab & Kabul

Prosesi Pernikahan Dou Mbojo (Bag. Kedua)

3. Bersatu Dalam Ikatan Pita Nggahi
Guna meningkatkan hubungan baik antara keluarga, maka kedua keluarga terus meningkatkan kegiatan silaturahim.Kegiatan yang dilakukan oleh kedua keluarga tersebut dinamakan “Pita Nggahi” (mengulang kata) dalam pengertian mempererat hubungan kekeluargaan antara kedua keluarga.
Selama masa “Sodi Angi”, pihak orang tua dan keluarga pemuda akan melakukan berbagai jenis upacara adat sebagai berikut: 

Wa’a Mama (Mengantar Sirih)
 
Wa’a mama artinya mengantar atau membawa bahan untuk makan sirih (mama) seperti nahi ( sirih), u’a ( pinang), tambaku ( tembakau), tagambe dan afu mama ( kapur khusus untuk pemakan sirih). Dalam pelaksanaanya pihak orang tua pemuda bukan hanya mengantar bahan untuk makan sirih ( mama) tetapi juga membawa berbagai jenis makanan dan kue tradisional.
Upacara Wa’a mama dilaksanakan pada awal musim panen ( oru pako) dan dilangsungkan pada malam bulan purnama. Dari pihak keluarga pemuda akan diwakili oleh ompu panati dan tokoh – tokoh adat bersama kaum ibu. Dari pihak keluarga gadis akan diwakili oleh Wa’i Panati didampingi keluarga gadis dan kaum ibu. Wa’i Panati adalah Tokoh Adat Perempuan yang dipandang mampu seperti Ompu Panati dalam hal berpantun dan bersyair atau yang dituakan dalam proses Wa’a Mama ini. Dalam proses ini juga terjadi saling berbalas pantun antara Ompu Panati dan Wa’i Panati.
Semua barang yang dibawa oleh keluarga pemuda akan dibagi – bagikan kepada Galara, Lebe dan keluarga serta kerabat. Ada juga yang dimakan oleh gadis bersama teman – teman ketika sedang memanen padi di sawah. 

Tujuan utama dari upacara wa’a mama ialah :
  • Mempererat ikatan kekeluargaan antara keluarga.
  • Sebagai pemberitahuan kepada seluruh keluarga dan masyarakat, bahwa putra – putri mereka sudah resmi Sodi Angi ( bertunangan). Karena itu keduanya tidak boleh dipinang lagi.
Wa’a Sarau (Pengantaran Camping)
 
Secara harfiah wa’a sarau artinya mengantar atau membawa sarau (Camping) yaitu sejenis topi tradisional Bima-Dompu yang dibuat dari anyaman bambu.Upacara wa’a sarau hampir sama dengan upacara wa’a mama. Dilaksanakan pada musim tanam( oru mura). Barang – barang yang diantar adalah sarau dan berbagai jenis kue tradisional dan umbi – umbian serta buah – buahan dari kebun pemuda.
Penggunaan barang – barang yang dibawa oleh keluarga pemuda sama dengan penggunaan barang – barang yang dibawa pada upacara wa’a mama. Tujuanya pun sama yaitu untuk meningkatkan hubungan silaturahmi dan sebagai pemberitahuan kepada seluruh keluarga dan masyarakat, tentang pertunangan putra – putri mereka. 

4. Menguji Kesetiaan Lewat Ngge’e Nuru
 
Ngge’e nuru maksudnya calon suami tinggal bersama di rumah calon mertua.Ngge’e artinya tinggal, nuru artinya ikut. Setelah pria sudah diterima lamarannya dan bila kedua belah pihak menghendaki, sang pria diperkenankan tinggal bersama calon mertua di rumah calon mertua. Dia akan menanti bulan baik dan hari baik untuk melaksanakan upacara pernikahan.
Datangnya sang pria untuk tinggal di rumah calon mertua inilah yang disebut dengan Ngge’e Nuru. Selama terjadinya ngge’e nuru, sang pria harus memperlihatkan sikap, tingkah laku dan tutur kata yang baik kepada calon mertuanya. Bila selama ngge’e nuru ini sang pria memperlihatkan sikap, tingkah laku dan tutur kata yang tidak sopan, malas dan sebagainya, atau tak pernah melakukan shalat, lamaran bisa dibatalkan secara sepihak oleh keluarga perempuan. Ini berarti ikatan sodi angi diantara dua remaja tadi putus.
Selama Ngge’e Nuru si pemuda tidak boleh berkomunikasi langsung dengan gadis tunangannya. Kalau ada hal yang penting yang ingin di sampaikan , harus melalui orang lain. Menurut adat, tabu bagi si pemuda untuk berkomunikasi langsung dengan gadis tunangannya tanpa ada orang lain sebagai perantara dan saksi.
Selama ngge’e nuru si pemuda harus membantu orang tua gadis (calon mertua) dalam mengurus dan mengerjakan sawah, kebun dan hewan ternak. Upacara ngge’e nuru mengandung tujuan luhur lagi mulia, antara lain sebagai berikut :

Prosesi Pernikahan Dou Mbojo (Bag. Pertama)

Pernikahan atau Nika ra neku dalam tradisi Bima- Dompu memiliki aturan baku. Aturan itu cukup ketat sehingga satu kesalahan bisa membuat rencana pernikahan (nika) menjadi tertunda bahkan batal. Dulu, seorang calon mempelai laki-laki tidak diperkenankan berpapasan dengan calon mertua. Dia harus menghindari jalan berpapasan. Jika kebetulan berpapasan, maka calon dianggap tidak sopan. Untuk itu, harus dihukum dengan menolaknya menjadi menantu.
Aturan yang ketat itu tentu menjadi bermakna karena ditaati oleh segenap anggota masyarakat. Kini, tentu saja aturan tersebut sudah ditinggalkan. Misalnya ngge’e nuru atau tinggal bersama calon mertua untuk mengabdi di sana.“Nika ro Neku” terdiri dari dua kata yaitu nika dan neku.Kata nika bersal dari bahsa Indonesia (bahasa melayu) nikah.Karena bahasa Bima-Dompu tidak mengenal konsonan akhir, maka kata nikah menjadi “nika”. Kata neku atau nako sama artinya dengan “nika”. Pengertian nika ro neku adalah serangkaian upacara adat yang dilakukan sebelum dan sesudah upacara lafa(akad).
Bagi semua orang tua, akan merasa berbahagia bila bisa melaksanakan sunah Rasul yang menganjurkan muslim dewasa untuk menikah. Oleh sebab itu tidaklah mengherankan bila pelaksanaan nika diawali serta diakhiri dengan berbagai upacara adat sebagai luapan rasa bahagia dan syukur kehadapan Yang Maha Kuasa yaitu Allah SWT.
Bagi masyarakat Bima-Dompu, upacara nika ro neku, merupakan upacara daur hidup yang sangat menentukan masa depan putra – putri mereka. Keluarga, sanak saudara, karib kerabat, dan warga terlibat dalam upacara ini. Karena itu upacara Nika ro neku termasuk “Rawi Rasa” (upacara yang harus melibatkan seluruh warga kampung).
Ada 15 proses kegiatan yang berkaitan dengan pernikahan dalam kebiasaan masyarakat Bima Dompu. Kegiatan tersebut diawali dengan kunjungan rahasia atau yang dikenal dengan La Lose Ro La Ludi, mengikrar kata hati, Pita Nggahi, Ngge’e Nuru, Mbolo Ro Dampa, Pingitan, Wa’a Masa Nika, Kalondo Dou Di Wei, Upacara Kapanca, Lafa, Membuka Tabir, Persembahan kesetiaan, Boho Oi Ndeu, Ngaha Nggula, dan Pamaco.
1. Misi La Lose Ro La Ludi
Kegiatan ini merupakan langkah awal yang dilakukan oleh orang tua pemuda guna mencari seorang gadis yang cocok untuk dijadikan Dou Sodi (tunangan) putranya. Orang tua atau keluarga dekat dari pemuda akan berkunjung ke rumah orang tua gadis idaman putranya.
Pihak orang tua pemuda akan meminta keterangan dari pihak orang tua gadis tentang status putrinya. Apakah sudah menjadi tunangan dari pemuda lain atau belum. Seandainya belum, maka ada peluang bagi pihak orang tua pemuda untuk meminang gadis tersebut.
Upaya yang dilakukan oleh pihak orang tua untuk mencari jodoh putranya hanya diketahui oleh keluarga dekat.Hal ini masih bersifat rahasia dan Belum diumumkan kepda seluruh keluarga dan handai tolan. Karena itu kegiatan ini disebut “La lose ro la ludi” atau kegiatan yang hanya diketahui oleh keluarga dekat. Kadang - kadang kegiatan ini dikenal dengan istilah “Nari ro mpida” karena masih dirahasiakan.
Menurut ketentuan adat, seorang pemuda baru dibenarkan mencari jodoh apabila sudah memenuhi persyaratan sebagai berikut:
  • Umurnya benar – benar sudah dewasa.
  • Telah mampu mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Dengan kata lain sudah memiliki keterampilan di bidang pertanian dan peternakan, atau perdagangan dan keterampilan lain yang dapat dijadikan mata pencaharian.
  • Taat menjalankan semua perintah agama dan adat, serta mampu menjauhkan diri dari perbuatan tercela.
 
2. Mengikrar Kata Hati
Setelah mendapat kepastian bahwa gadis tersebut belum dilamar atau menjadi tunangan pemuda lain, maka pihak keluarga pemuda akan melakukan kunjungan yang kedua ke rumah orang tua gadis sebagai tindak lanjut dari la lose ro la ludi. Dalam kunjungan ini pihak orang tua pemuda biasanya akan diwakilioleh seorang tokoh adat yang disebut” Ompu Panati” didampingi oleh beberapa orang keluarga dekat. Ompu Panati adalah seorang tokoh yang dipandang ahli dalam pinang meminang gadis. Dia biasanya juga ahli dalam berpantun dan bersyair.